Hi Guys,,tadi saya baru surfing di internet dan saya lagi mencari apapun yang berhubungan dengan negara Swiss (Switzerland). Saya sangat tertarik dengan negara itu dan sangat bermimpi bisa berkunjung ke sana suatu saat nanti atau bahkan bisa menetap di sana. dari beberapa literatur yang pernah saya baca atau dari bebera beberan dari orang-orang, teman-teman dan dosen-dosen saya (pada khususnya), mereka mengatakan bahwa negara yang paling rendah tingkat korupsi dan kriminalitasnya itu adalah negara Swiss. Dengan gambaran negara yang dinyatakan oleh mereka, saya menjadi sangat tertarik ingin ke sana. Namun, untuk lebih meyakinkan diri saya lagi, oleh sebab itulah saya mencari informasi apapun yang bisa saya dapatkan tentang negara indah itu (masih dalam angan-anganku)melalui googling. setelah beberapa saat saya mencari saya belum menemukan apa yang benar-benar ingin saya baca. Lalu, karena lelahnya mencari ditambah lagi menunggu loadingnya tel*****l fla** yang bikin muyak saking lambatnya, saya memutuskan untuk mencari pages mengenai kesaksian orang Indonesia yang pernah berkunjung atau bahakan menetap di Swiss, dan sayapun dengan tidak sengaja menemukan halaman di bawah ini, halaman ini semuanya bercerita tentang pengalaman orang-orang Indonesia yang pernah ke Swiss atau sebaliknya, dan tentunya orang-orang ini berasal dari berbagai profesi, ada mahasiswa, orang tua biasa, politikus, bahkan sampai TKI atau BMI (Buruh Migran Indonesia), semuanya bertemu dalam web ini yang disebut "Indonesia-Swiss Club" semua anggotanya dapat menuliskan pengalaman menarik mereka dalam sebuah e-note (electronik note / catatan elektronik). Nah, di bawah ini adalah salah satu pengalaman orang Swiss-Indonesia (setidaknya begitulah yang dikatakan si penulis dalam catatannya) mengenai negara Indonesia-Swiss sendiri, jadi ini bukan kesaksian dari pemgalaman saya, melainkan pengalaman orang lain. nah, kalau kalian tertatik untuk mengetahui lebih jauh, silahkan dibaca toh postingan copy-an-ku di bawah dan untuk lebih meyakinkan para pembaca bahwa ini bukan karangan Mr. Ebay belaka maka saya juga tidak segan-segan untuk memberi alamat HTML-nya. Well, Ebay DJ Love Peace, bro n' sist.
Author ; Reto Meili
re-Writer ; Ebay Downey Jr
real pages ; http://indonesiaclub.jimdo.com/catatan-berbincang-santai/catatan-bernincang-santai-1-10/
Pertamanya, saya mau cerita pengalaman saya sendiri dengan Indonesia, lalu membahas bagaimana persepsi Indonesia di Europa atau di Swiss pada umumnya.
Saya berumur 13 waktu pertama kali saya dengar nama negara Indonesia. Waktu itu ada pendeta dari Timor yang tinggal dan kerja di gereja di Horgen, dekat Zürich. Saya ingat bahwa ibu saya ajak saya ikut dia ke gereja saat Erntedankfest di Schönenberg, desa orang tuaku. Die bilang tahun ini ada tamu khusus dari Indonesia yang bicara tentang budaya dan negaranya. Saya jadi bingung. Tentu semua orang tahu India, tapi Indonesia, apa itu? Negarakah? Saya cari negara ini di peta dunia dan ikut Erntedankfest dan kenalan dengan pak Abe Polid dan putrinya Elza. Saya tak ingat lagi alasan utamanya kenapa saya tetap tertarik dengan Indonesia. Mungkin karena kecantikan si Elza. Dia pintar sekali main piano dan menyanyi.
Waktu itu saya masih SMP. Habis sekolah saya sering mampir di keluarga Poli di Horgen, belajar beberapa kata dalam bahasa Indonesia dan belajar tentang budaya Indonesia. Saya masih ingat pak Poli heran karena saya mau tahu „ich mag es, wenn die Sonne scheint“. Dia bilang, matahari selalu bersinar di Indonesia. „Wah, negara keren!“, saya pikir.
Selain pak Poli itu ada satu orang lagi yang penting untuk hubungan saya dengan Indonesia: temannya bapak, pak Müller, yang saat itu kerja di Indonesia selama 6 tahun. Dia suruh keluarga saya kunjungi dia di Batu (Jawa Timur) tahun 1993, karena ini sudah tahun terakhir dia tinggal di Indonesia. Memang bisa dianggap kebetulan sekali saya kenalan sama pak Poli dan disuruh mampir ke Indonesia oleh pak Müller. Kita jadi pergi liburan ke Indonesia sekeluarga summer 1993. Waktu itu saya berumur 14 dan pertama kali jalan jauh, keluar Europa malah. Kalau saya baca ulang diary yang saya tulis waktu itu, saya jadi ingat benar-benar jatuh cinta sama negara indah itu yang namanya Indonesia. Saya langsung merasa dekat dengan budayanya dan dan pak Müller menjadi idolaku. Waktu itu saya yakin mau kerja dan tinggal di Indonesia juga, dan menjadi persis seperti dia. Tiap kata yang pak Müller ucapkan, tiap cerita tentang Indonesia, saya dengar dengan mulut dan kuping terbuka. Jadi saat itu, pengetahuanku tentang Indonesia semua dari pak Müller.
Pulang dari Indonesia saya menjadi fan setia negara itu. Mungkin karena orangnya yang ramah, mungkin karena kecantikan alamnya, mungkin juga karena exotisme.
Tahun 1997, waktu saya berumur 17 dan sudah SMA, ibu saya lihat iklannya AFS, bina antarbudaya, yang menawarkan ikut menjadi pertukaran pelajar ke luar negri selama satu tahun. Orang tuaku siap mau bayar biar saya bisa ikut programnya AFS. Walaupun bapak saya suruh saya pilih USA, Australia atau New Zealand, pokoknya suatu negara yang berbahasa inggris biar ada gunanya belajar di luar negri, saya tetap mau pilih Indonesia. Rasanya saya belum tahu cukup tentang negara itu. Jadilah, saya ikut program AFS ke Makassar/Indonesia, tinggal di keluarga angkat dan ikut pelajaran di SMA 17. Saya diberi kesempatan untuk benar-benar hidup di budaya yang jauh berbeda dengan budayaku. Saya ikut upacara bendera, saya ikut bosan di pelajaran PPKN, saya ikut pakai seragam yang tidak nyaman, saya ikut makan bakso di kantin saat istirahat jam 10 pagi, saya ikut santai dan makan di pantai Losari yang saat itu masih menjadi meja terpanjang di dunia, saya ikut jongkok sambil makan bakso, es teler atau mie kuah, saya ikut nongkrong di pos kamling, merokok gudang garam, nonton orang latihan sepak bola, nonton dan ketawa lihat team volley ball bencong, saya ikut makan, minum dan merokok tersembunyi di alang-alang saat bulan puasa, saya ikut puasa juga, saya ikut main domino dan minum ballo bersama teman-teman pos, saya ikut panggil cewek yang lewat dan ketawa karena herannya melihat bule jadi anak jalanan. Saya ikut belajar sholat, menyanyi adzhan, saya ikut ke gereja pantekosta, saya ikut injak kecoa, ikut ke desa adat Kajang berpakaian hitam bersama bangsawan, saya ikut teman-teman ke pantai Bira dan ikut pesta To Mate bersama keluarga teman saya di Tana Toraja. Saya ikut bolos sekolah, ikut EBTANAS bahasa inggris dan ikut ngaret seperti kebiasaan orang Indonesia. Seperti orang Indonesia juga saya kena krismon, kerusuhan, inflasi dan akhirnya dievakuasikan. Maka saya ikut cinta dollar daripada rupiah. Waktu saya transit di Singapore, saya tidak mampu beli satu cangkir kopi pun, karena kurs rupiahnya jatuh jauh. Saya pegang 20'000 rupiah dan tak mampu beli apa-apa di bandara Singapore. Permen karet pun terlalu mahal jadinya. Di Indonesia sebelum krismon, dengan 20'000 rupiah itu bisa saya beli 20 mangkok bakso, sekarang satu cangkir kopi sudah terlalu mahal. Saat saya ikut program pertukaran pelajar saya merasa menjadi orang Indonesia untuk sebagian. Pulang dari Indonesia saya melihat budaya diriku dengan mata yang berbeda. Saya melihat beberapa kebiasaan khas orang Swiss yang saya anggap normal sebelum berangkat. Saya mulai bandingkan kedua budaya itu. Pulang dari Indonesia saya merasa bahwa Indonesia telah menjadi sebagian dari identitasku. Di Indonesia saya juga mulai respek dan tertarik sama Islam, karena Islam Indonesia rata-rata toleran dan orangnya ramah. Tidak bisa disamakan dengan para Taliban. Tahunku di Indonesia benar-benar merubahkan saya dan sejak itu saya tahu bahwa saya selalu akan kembali ke Indonesia, yang menjadi my second home. Sedangkan teman-teman saya yang ikut ke Indonesia tahun 1997/98 ada juga yang sudah hampir lupa tentang Indonesia dan bahasanya, saya tetap berkontak dengan teman-teman saya dari dulu. Mungkin saya memang ketemu negara dan budaya yang cocok dengan saya. Sejak itu saya sudah tiga kali kembali ke Indonesia, dan tentu tiap kali mampir di Makassar. Bedanya dengan tahun AFS, waktu itu saya tak boleh jalan-jalan ke luar Sulawesi Selatan. Sedangkan sejak itu saya selalu keliling-keliling Indonesia.
Waktu saya kuliah saya sering pilih seminar-seminar tentang Indonesia yang ditawarkan oleh antropologi di Universitas Bern. Saya mau tambah pengetahuan ilmiah tentang Indonesia dan bukan saja pengetahuan budaya sehari-hari.
Saya sebut semua itu karena saya pikir pengalaman saya tentang Indonesia sudah jauh berbeda dengan orang Swiss atau Europa yang lain. Maka saya tidak mewakili orang Swiss pada umumnya.
Indonesia di mata saya adalah kepulauan yang sangat kompleks. Antara 13'000 dan 17'000 pulau, antara 300 dan 400 suku dan bahasa yang berbeda, 5 agama yang resmi dan ratusan yang sebenarnya, membuat Indonesia sangat diverse. Yang pasti Indonesia itu lahir dari aktivitas penjajah belanda yang menentukan perbatasan. Hasil sejarahnya kebetulan ada perbatasan antara Malaysia dan Indonesia, antara Filipina dan Indonesia, dan tidak ada perbatasan antara Papua dan Indonesia. Saat merdeka, Soekarno kena tantangan yang besar, bagaimana menyatukan semua pulau, suku dan agama itu? Menurut saya Soekarno sangat pintar temukan solusi kompromi ala Indonesia: dia campur aliran kapitalisme, sosialisme dan agama menjadi Pancasila, suatu produk yang benar-benar asli made in Indonesia. Menurut saya, Pancasila itu bisa menjadi contoh atau metafora. Sejak dulu budaya Indonesia selalu berhasil pinjam elemen-elemen dari budaya luar negri, tapi disesuaikan dengan budaya Indonesia. Bahasa Indonesia mengambil setengah dari kosa kata bahasa-bahasa luar negeri, budaya Indonesia mengintegrasi agama Hindu dari India, agama Buddha dari Cina, agama Islam dari Arab, agama kristen dari Europa tanpa hilang identitas dirinya. Indonesia mengintegrasi konstitusi Europa dan ekonomi kapitalis. Berarti Indonesia itu adalah budaya yang resisten, yang ambil elemen-elemen dari luar negri tanpa hilang identitas sendiri. Kita bisa bandingkan kemampuan dan kekuatan itu dengan ketidakmampuan budaya-budaya Europa untuk mengintegrasi elemen-elemen luar budaya di budaya sendiri (Balkan, Turki, Tamil etc.). Itu berarti bahwa budaya Indonesia memang dinamis dan bisa menjadi contohnya globalisasi. Sejak dulu orang Indonesia biasa tinggal di lingkungan multikultural. Hampir setiap orang Indonesia mampu bicara dalam dua atau tiga bahasa dan pikir dalam dua sistim budaya yang berbeda: Bugis dan Indonesia, Jawa dan Indonesia, Bali, Indonesia dan Inggris, dsb. Itu berarti bahwa budaya Indonesia sebenarnya paling resisten terhadap pengaruh-pengaruh negatifnya globalisasi, karena dinamisme dan perubahan sendiri telah menjadi bagian dari budaya dan identitas Indonesia. Saya hormat sekali dengan sifat budaya Indonesia itu, yang bisa menjadi petunjuk untuk budaya-budaya Europa yang makin lama makin tertutup terhadap pengaruh luar Europa.
Saya sendiri merasa betah sekali di Indonesia karena orangnya tidak cuek, suka ajak bicara, tertarik mau tahu tentang luar negri dan selalu senang sekali kalau saya bisa jawab dalam bahasa mereka. Saya merasa direspek terus oleh orang Indonesia. Tidak bisa dibandingkan dengan terbaliknya. Orang luar Europa yang tinggal di sini sering kena skeptisismenya orang Europa, sampai rasisme juga. Saya senang juga dengan makanan yang gurih dan pedisnya, dengan pemandangan dan iklim tropisnya. Alam Indonesia itu luar biasa dengan gunung apinya, pulau-pulau dengan batu karangnya, bukit-bukit berhutannya, sawah-sawah di pegunungannya. Hampir semua orang Europa yang pernah ke Indonesia benar-benar heran dengan keindahan negara itu dan keramahan penduduknya. Menurut saya orang Indonesia boleh saja bangga dengan negara dan budayanya. Kadang saya merasa orang Indonesia sudah kurang percaya diri, padahal tinggal di negara yang luar biasa.
Walaupun saya benar-benar senang dengan Indonesia, baik dengan alam maupun budayanya, ada beberapa sisi negatifnya juga yang saya mau sebutkan. Pertama, saya kadang sedikit terganggu kalau orang Indonesia rata-rata konservatif sekali dan menurut saya jauh terlalu religius. Berarti orang Indonesia kadang tidak pikir sendiri lagi tapi ikut seorang leader saja. Di bidang politik orang Indonesia sudah emansipasi dan punya opini sendiri. Tapi dibidang agama belum. Ada tendensi fundamentalisme yang sedikit mengkhawatirkan. Walaupun cuma 1% dari orang Indonesia memang fundamentalis, pengaruhnya sangat besar. Konstitusi Indonesia dan mulai longsor karena pemerintah Indonesia tidak serius mempertahankan pancasila. Menurut saya masalah terutamanya bahwa orang Indonesia sendiri terlalu religius. Walaupun orang politik atau polisi, yang sebenarnya bertugas mempertahankan konstitusi dan pancasila, mereka sendiri juga religuis dan tidak berani melawan para fundamentalis. Bukan saja karena takut orang fundamentalis lebih kuat, tapi juga takut nanti kena marahnya tuhan kalau melawan orang fundamentalis yang seagama. Biar dengan serius bisa mempertahankan ideologi negara, orang Indonesia mesti memisahkan politik dan agama. Kalau islamisasi di Indonesia maju, Nusantara lama-lama akan pecah, karena orang non-Islam akan mau tinggalkan Indoensia karena tidak bisa identifikasi lagi dengan negara syariah. Orang Jawa pun yang Muslim tidak tertarik mau hidup di negara syariah. Indonesia hanya bisa bersatu kalau pancasila, yang benar-benar menjadi produk Indonesia, dihormati dan dipertahankan tanpa kompromi. Karena syariah bukan produk Indonesia juga, melainkan produk impor budaya Arab. Kebiasaan Indonesia itu mengintegrasi elemen-elemen luar negri, tapi sesuaikannya biar cocok dengan sifat budaya Indonesia. Islamnya Jawa tidak sama dengan Islamnya Wahabiya. Orang Jawa tidak ada masalah percaya pada hantu-hantu, dewa-dewa dan pohon-pohon sakti sedangkan percaya sama Allah juga, karena mereka orang Indonesia, bukan orang Arab.
Masalah yang kedua adalah korupsi. Saya rasa bahwa para hakim, politisi dan polisi Indonesia bisa dibeli saja. Yang kaya bisa beli kebenaran. Saya tidak tahu kenapa justru di Indonesia parah sekali masalah korupsinya, tapi yang jelas Indonesia itu termasuk pemimpin daftar negara-negara yang korup. Korupsi itu bukan „Kavaliersdelikt“, melainkan mirip kanker yang meghancurkan sistim politik, dan kepercayaan rakyat pada pemerintahnya dan kepada adanya keadilan pula. Semua jadi relatif. Nilai sekolah bisa dibeli, ijazah doktor juga, kontrak bisa dibeli, pembunuhan bisa disembunyikan, konstitusi, hukum dan pancasila bisa longsor. Kalau tiap organnya tubuh Indonesia telah kena metastasisnya kanker yang namanya korupsi itu, matilah tubuhnya. Indonesia itu negara yang kaya. Buktinya Suharto berhasil mengambil 40 milyar dollar sendiri. Masalahnya itu distribusi uang itu. Walaupun Indonesia negara yang kaya, selama ada korupsi tidak mungkin menghapus kemiskinan yang tetap ada.
Masalah yang ketiganya menurut saya itu orang Indonesia rata-rata kurang respek alam. Hutan-hutannya Kalimantan hancur, orang utannya dibakar hidup, cicak saja dibunuh sembarangan, batu karangnya hancur karena polusi dan pemancingan pakai dinamit. Sungai-sungainya dan kanal-kanalnya sampai beracun dan penuh sampah. Belum terlambat, alam Indonesia masih luas dan indah, tapi sudah tiba waktunya untuk merubah dan merespek alam. Karena manusia itu hanya bagian dari alam, bukan rajanya alam.
Sekarang saya mau bahas Indonesia di mata orang Europa atau orang Swiss yang lain. Sejak saya pulang dari Indonesia tahun 1998 saya sering cerita tentang pengalamanku di Indonesia. Rata-rata orang Europa (mungkin kecuali orang belanda) tidak tahu Indonesia, walaupun Indonesia itu negara paling besar nomor 4 di dunia. Orang Indonesia jarang merantau ke luar negeri, jarang ada turis Indonesia di Europa, hampir tidak ada restoran atau pusat budaya Indonesia di Europa. Orang Swiss sudah tahu tentang budaya Cina, India, Thailand, Arab, Amerika Selatan dan Afrika, tapi Indonesia tidak. Saya ingat pertanyaan nenek saya apa di Indonesia memang ada televisi, mobil, rumah dan perdagangan. Orang Indonesia hidup di hutan atau di mana? Siapa mengajar mereka bangun rumah? Dia tidak bermaksud jelek atau menghina, tapi generasi nenek memang diajarkan bahwa budaya luar Europa masih kanibal dan tinggal di hutan. Orang muda masa kini sudah tahu adanya Indonesia. Tapi mereka tidak tahu apa-apa tantang Indonesia. Mereka tahu Bali dari liburan. Tapi mereka tidak sadar bahwa bukannya „Indonesia itu dekat Bali“, tapi Bali itu sebagian dari Indonesia. Promosi pariwisata kan juga utamakan Bali, bukan seluruh Indonesia. Hampir semua orang Swiss heran kalau saya bilang mayoritas orang Indonesia itu Muslim. Mereka pikir karena terletak di Asia Tenggara, pasti agama Buddha. Menurut orang Swiss, agama Islam terletak di Timur Tengah saja. Sejak Migros jual produk-produk Indonesia seperti krupuk, nasi goreng, mie goreng, sambal oelek dan bumbu babi panggang, orang Swiss mulai lebih tahu apa yang orang Indonesia makan. Saya ingat 10 tahun yang lalu nasi goreng dijual dan dideklarasi „chinesisches reisgeicht“, yang tentu salah. Tapi siapa tahu Indonesia? Migros pun tidak tahu atau mungkin pikir orang lebih wajar mau beli kalau mereka tahu di mana negaranya, seperti Cina. Saya juga heran kenapa kok Indonesia tidak terkenal sama sekali di Europa. Mayoritas restoran yang jual makanan Indonesia di Swiss bukan restoran Indonesia saja, melainkan resotran Thailand atau Cina yang juga tawarkan makanan Indonesia. Hampir tidak ada pemilik restoran yang berani buka restoran dengan resep Indonesia saja, karena takut tidak laku karena orang tidak tahu makanan Indonesia itu apa. Waktu Soeharto turun, banyak orang Europa untuk pertama kalinya dengar nama Indonesia. Yang pulang dari liburan di Bali pikir seluruh Indonesia itu seperti Bali. Mereka tidak sadar bahwa budaya Bali itu hanya salah satu dari ratusan budaya Indonesia, apalagi pengecualian karena budaya Hindu.
Menurut saya, KBRI di Europa mesti lebih serius promosikan budaya Indonesia, misalnya mengorganisir konferensi atau pemeran foto, undang sastrawan Indonesia, mengorganisir konferensi forum politik Indonesia, buka pusat budaya dan makanan Indonesia di Swiss. Orang Indonesia juga bisa menjadi penengah (Vermittler) yang penting di konflik-konflik antara budaya barat-kristen dan timur-islam, karena Islamnya Indonesia dianggap lebih moderat, toleran dan simpatis oleh orang Europa.
Indonesia itu negara yang besar dengan banyak potensial, tapi kok tidak terkenal sama sekali diluar Nusantara?
EbayDowneyJr
Blog ini bisa sharing apa saja dan untuk siapa saja. Di blog ini kamu bisa sharing pendapat mengenai dunia edukasi, cerpen, novel dan pengalaman (curhat) mengenai apa saja. Dengan sangat senang hati saya akan membantu anda sesuai dengan kemampuan saya. Well, for your information, i'm just the beginner.
Entri Populer
-
Hi Guys ,,tadi saya baru surfing di internet dan saya lagi mencari apapun yang berhubungan dengan negara Swiss ( Switzerland ). Saya sangat...
-
Dalam buku Memimpin Seperti Yesus (Lead Like Jesus), Ken Blanchard dan Phil Hodges menjelaskan bahwa di dalam dunia ini ada banyak peran ke...
-
Nampak pada akhir-akhir ini, bahwa Indonesia mengarah menuju pembentukan negara Islam. Beberapa propinsi sudah memperlakukan sharia secara a...
-
PRESIDENT SOEHARTO o Latar belakang / asal-usulnya. Haji Moehammad Soeharto ,lahir...
-
Kota Antiokhia dibangun oleh Seleukus Nicator dalam tahun 300 Sm. Di bawah pemerintahan raja-raja Seleuk yang pertama ia berkembang dengan p...
-
SEJARAH GEREJA MULA-MULA A. LATAR BELAKANG Sebelum Yesus naik ke surga, Ia memberikan perintah kepada para murid-Nya untuk pergi ke Y...
-
Sewaktu mereka berkumpul di balik pintu terkunci di Yerusalem pada hari-hari pertama setelah kebangkitan Yesus, para murid mengetahui bahwa ...
-
* Kisah 24:5 LAI TB, Telah nyata kepada kami, bahwa orang ini adalah penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara semua or...
-
* Kisah 24:5 LAI TB, Telah nyata kepada kami, bahwa orang ini adalah penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara semua or...
-
Nama : Exbar Silambi NIM : 0802045139 Prody : Ilmu Hubungan Internasional Hal : Tugas Isu-...
Thursday, June 16, 2011
Islam Indonesia akan kemana ?
Nampak pada akhir-akhir ini, bahwa Indonesia mengarah menuju pembentukan negara Islam. Beberapa propinsi sudah memperlakukan sharia secara administratif: Aceh (introduksi hukuman cambuk), Sumatra Barat, Jawa Barat, Tangerang, Depok, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan. Daerah-daerah bertambah, dimana arabisasi pakaian wanita diharuskan, sampai di Padang murid-murid Kristen harus menggunakan jilbab di sekolah. Menurut angka tahun 2008 para mahasiswa UI, ITB, GAMA, UNDIP dan Unair sampai 80% menghendaki berlakunya sharia, dipengaruhi oleh KAMMI di kampus.. Antara 2004 – 2007 FPI memaksakan penutupan 110 gereja. Aliran Ahmadiyah berulang-ulang diserang, dituntut bubar. MUI menekankan pemisahan dari agama-agama bukan Islam (fatwa Natal!), mendiskreditkan orang Islam liberal seperti Ulil Abshar Abdalla. Akhirnya undang-undang antiporno mengatur media, pakaian wanita menurut paham sharia yang sempit. Ditentang oleh pemerintah Bali, Papua Barat, Sulawesi Utara, partai PDIP (Megawati) dan konferensi uskup. Pemerintah kelihatan lesu, takut untuk melawan arus Islamisasi ini, berhubung Golkar sudah dirembes oleh unsur Islam militan.
Di lain fihak tampil Islam humanis-liberal yang menguat. Terbukti oleh dokumentasi dari LSAF(lembaga studi agama dan filsafat) 2008 “Membela kebebasan beragama”. Ada 33 tokoh Islam yang menanggapi, memperdalam topik itu dalam bentuk wawancara, a.l. Rektor universitas Islam di Jakarta dan Yogyakarta, beberapa mahaguru universitas Islam dan negeri, pemimpin politik seperti Abdurrahman Wahid, Amien Rais, Ahmad Syafii Maarif, Said Aquil Siraj. Termuat juga10 penulis Kristen-Katolik, a.l. Franz Magnis Suseno, Melani Budianta, Martin Sinaga, Franz Dähler. Semua pembicara sepakat dengan sekularisasi moderat atas dasar kebebasan agama. Introduksi sharia di daerah-daerah tertentu ditolak, argumen untuk introduksi sharia, bahwa Islam merupakan mayoritas umat, tidak diterima. Dicarikan argumentasi demi kebebasan agama dan pluralisme dalam Al Quran sendiri. Menurut piagam Madinah nabi Muhammad menghendaki agar umat Islam, Yahudi dan Kristen hidup bersama-sama dalam suasana rukun. Beberapa pembicara mencari titik-titik pertemuan dengan agama-agama lain untuk memperjuangkan keadilan, HAM. Menyoloklah suara tegas para wanita seperti Gadis Arivia (dosen filsafat UI), Lies Marcoes Natsir, Lily Zakiyah Munir. Mereka memanggil nilai-nilai universal dari Islam, yang berlawanan dengan sistem otokrati (gaya Hizbut Tahrir) dan menuntut perombakan aturan-aturan sharia yang merugikan wanita, khususnya dalam perundangan antiporno.
Suara Islam Indonesia begitu luas dan mendalam mengesankan, akan meluas asalkan disertai langkah-langkah politik. Diperlukan pembinaan sosialpolitis generasi muda lintas agama, karena Islam fundamentalis dalam dunia politik kelihatan maju, lebih ampuh.
Siti Ruhaini Dzuhayatin, direktor studi wanita universitas Islam Yogyakarta, mengatakan: Mestinya Indonesia sudah leading dalam mulitkulturalisme dengan 664 ethnic groups. Sehingga kita menjadi laboratorium dunia tentang pluralisme yang lebih memadai. Upaya tersebut sangat bergantung pada kesadaran umat Islam sebagai mayoritas. Yang harus dilakukan dahulu adalah : how to educate the majority. Intinya adalah penguatan lembaga pendidikan Islam seperti pesantren, madrasah, UIN sebagai penyangga Islam mayoritas di Indonesia.
5.Maret 2009 - oleh Dr.Franz Dähler, di Bibliothek universitas Zürich.
sumber asli : http://indonesiaclub.jimdo.com/catatan-berbincang-santai/catatan-bernincang-santai-1-10/
Di lain fihak tampil Islam humanis-liberal yang menguat. Terbukti oleh dokumentasi dari LSAF(lembaga studi agama dan filsafat) 2008 “Membela kebebasan beragama”. Ada 33 tokoh Islam yang menanggapi, memperdalam topik itu dalam bentuk wawancara, a.l. Rektor universitas Islam di Jakarta dan Yogyakarta, beberapa mahaguru universitas Islam dan negeri, pemimpin politik seperti Abdurrahman Wahid, Amien Rais, Ahmad Syafii Maarif, Said Aquil Siraj. Termuat juga10 penulis Kristen-Katolik, a.l. Franz Magnis Suseno, Melani Budianta, Martin Sinaga, Franz Dähler. Semua pembicara sepakat dengan sekularisasi moderat atas dasar kebebasan agama. Introduksi sharia di daerah-daerah tertentu ditolak, argumen untuk introduksi sharia, bahwa Islam merupakan mayoritas umat, tidak diterima. Dicarikan argumentasi demi kebebasan agama dan pluralisme dalam Al Quran sendiri. Menurut piagam Madinah nabi Muhammad menghendaki agar umat Islam, Yahudi dan Kristen hidup bersama-sama dalam suasana rukun. Beberapa pembicara mencari titik-titik pertemuan dengan agama-agama lain untuk memperjuangkan keadilan, HAM. Menyoloklah suara tegas para wanita seperti Gadis Arivia (dosen filsafat UI), Lies Marcoes Natsir, Lily Zakiyah Munir. Mereka memanggil nilai-nilai universal dari Islam, yang berlawanan dengan sistem otokrati (gaya Hizbut Tahrir) dan menuntut perombakan aturan-aturan sharia yang merugikan wanita, khususnya dalam perundangan antiporno.
Suara Islam Indonesia begitu luas dan mendalam mengesankan, akan meluas asalkan disertai langkah-langkah politik. Diperlukan pembinaan sosialpolitis generasi muda lintas agama, karena Islam fundamentalis dalam dunia politik kelihatan maju, lebih ampuh.
Siti Ruhaini Dzuhayatin, direktor studi wanita universitas Islam Yogyakarta, mengatakan: Mestinya Indonesia sudah leading dalam mulitkulturalisme dengan 664 ethnic groups. Sehingga kita menjadi laboratorium dunia tentang pluralisme yang lebih memadai. Upaya tersebut sangat bergantung pada kesadaran umat Islam sebagai mayoritas. Yang harus dilakukan dahulu adalah : how to educate the majority. Intinya adalah penguatan lembaga pendidikan Islam seperti pesantren, madrasah, UIN sebagai penyangga Islam mayoritas di Indonesia.
5.Maret 2009 - oleh Dr.Franz Dähler, di Bibliothek universitas Zürich.
sumber asli : http://indonesiaclub.jimdo.com/catatan-berbincang-santai/catatan-bernincang-santai-1-10/
Saturday, June 11, 2011
NASRANI DAN KRISTEN
* Kisah 24:5
LAI TB, Telah nyata kepada kami, bahwa orang ini adalah penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara semua orang Yahudi di seluruh dunia yang beradab, dan bahwa ia adalah seorang tokoh dari sekte orang Nasrani
LAI TB (edisi-2), Kami dapati bahwa orang ini adalah penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara semua orang Yahudi di seluruh dunia dan bahwa ia adalah seorang tokoh dari aliran Nasrani.
KJV, For we have found this man a pestilent fellow, and a mover of sedition among all the Jews throughout the world, and a ringleader of the sect of the Nazarenes
NIV, We have found this man to be a troublemaker, stirring up riots among the Jews all over the world. He is a ringleader of the Nazarene sect
TR, ευροντες γαρ τον ανδρα τουτον λοιμον και κινουντα στασιν πασιν τοις ιουδαιοις τοις κατα την οικουμενην πρωτοστατην τε της των ναζωραιων αιρεσεως
Translit interlinear, heurontes {setelah menemukan} gar {karena} ton andra {orang} touton {ini} loimon {seperti wabah (yang membahayakan)} kai {dan} kinounta {menimbulkan} stasin {pertengkaran2} pasin {(diantara) semua} tois {orang2} ioudaiois {Yahudi} tois kata {diseluruh} tên oikoumenên {dunia} prôtostatên {pemimpin} te {dan} tês tôn {orang2} nazôraiôn {nasrani} haireseôs {dari sekte}
The Orthodox Jewish Brit Chadasha , For having found this man a troublemaker and an inciter of riots among all the Yehudim throughout kol ha'aretz, a manhig of the kat, the Natzrati Kat.
HaBrit HaKhadasya (Translit), 'ANAKHNÛ MÂTSÂ'NÛ 'ET-HÂ'ÎSY HAZEH KADEVER YAHAKHA LOMESYALAKH MEDÂNÎM BÊYT KOL-HAYHÛDÎM BEKOL-HÂ'ÂRETS VEHÛ' MANHÎG LEMIFLEGET HANÂTSRÎM
Josephus, sejarawan Yahudi pada abad pertama, menulis ada tiga sekte utama di dalam Yudaisme, yaitu Farisi, Saduki dan Esseni.
Epiphanius, sejarawan Gereja pada abad keempat, mencatat ada tujuh sekte, yaitu Saduki, ahli Taurat, orang Farisi, Hemerobaptis, Ossaean, Nasaraean dan Herodian.
Para pengikut Yesus yang mula-mula juga dikenal sebagai sebuah sekte, yang disebut sebagai "sekte Nasrani" (Yunani: ναζωραιος - NAZÔRAIOS, Ibrani: נצרים - NATSRÎM).
Hegesippus, penganut Nasrani dari abad kedua, menulis selain mereka, ada tujuh sekte lain, yaitu Esseni, Galilean, Hemerobaptis, Masbothaean, Samaria, Saduki dan Farisi.
Kekeliruan dalam mengidentifikasikan sekte Nasrani disebabkan antara lain oleh banyaknya variasi nama yang beda-beda tipis seperti Nazarenus, Nazoraios, Nazaroi, Nazoraean, Nasaraean, Nazarites, Notzrim, N'tzarim, dan lain-lain.
Definisi sekte Nasrani menurut kalangan Yahudi Mesianik:
Sekte Nasrani adalah sebuah sekte dalam agama Yahudi yang hidup menuruti apa yang tertulis di dalam hukum Taurat dan percaya bahwa keselamatan datang melalui YEHÔSYUA' HAMASYIÂKH, Anak 'ELOHÎM, lahir dari perawan Mariam, mati dan bangkit, naik ke surga, duduk di sebelah kanan 'ELOHÎM Bapa, dan datang kemudian untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.
Tentang sekte ini, para Bapa Gereja memberikan kesaksian sebagai berikut:
"...yang menerima Kristus sedemikian rupa namun tanpa meninggalkan Hukum yang lama." (St. Yerome. On Isaiah 8:14).
"Pengikut sekte ini dikenal luas sebagai kaum Nasrani, mereka percaya kepada Kristus, anak Elohim, lahir dari perawan Maria, dan mereka berkata bahwa Ia yang menderita di bawah Pontius Pilatus, dan bangkit lagi, adalah orang yang sama seperti yang kita percayai." (Surat Yerome kepada Agustinus)
"Mereka tidak mempunyai pendapat yang berbeda, namun melakukan semua hal tepat seperti apa yang diperintahkan dalam Taurat, menurut tata cara Yahudi - kecuali kepercayaan mereka terhadap Mesias..." (Epiphanius. Panarion 29)
Sekte Nasrani tersusun atas kebanyakan orang Yahudi, kemudian orang-orang bukan Yahudi yang menganut agama Yahudi (Yunani: προσηλυτος - "PROSÊLUTOS"), dan mungkin pula para pengikut Yohanes Pembaptis. Mereka sangat rajin memelihara Taurat (Kisah Para Rasul 20:21) dan terus beribadah seperti orang Yahudi lainnya (Kisah Para Rasul 2:45). Kepemimpinan sekte ini secara berturut-turut dipegang oleh orang-orang yang berhubungan darah dengan Yesus, yang pertama adalah Yakobus, saudara Yesus, kedua Simeon anak Klopas, sepupu Yesus, ketiga Yustus, yang juga adalah sepupu Yesus, dan seterusnya. Paulus disebut-sebut juga sebagai salah seorang tokoh dari sekte ini (Kisah Para Rasul 24:5).
Sebutan Nasrani (Ibrani: NATSRÎM atau NETSARÎM) berasal dari kalangan Yahudi untuk menyebut para pengikut Yesus.
Kata ini muncul dua kali dalam Perjanjian baru (Kisah Para Rasul 24:5, 14) dan juga di dalam Talmud (Shabbath 116a, Gittin 57a, Avodah Zarah 48a).
Asal-usul sebutan ini berasal masih menjadi bahan perdebatan oleh para sarjana. Sebagian sarjana berpendapat bahwa nama tersebut berasal dari kata Ibrani נצר - NETSER, "tunas" yang dikaitkan dengan Yesaya 11:1 - bahwa Yesus adalah Sang Tunas. Tetapi teori ini kurang masuk akal jika mengingat sebutan Nasrani berasal dari kalangan orang Yahudi yang tidak percaya. Jika kata Nasrani benar berasal dari kata נצר - NETSER, maka berarti mereka mengakui bahwa Yesus adalah Mesias.
Epiphanius mencatat bahwa pengikut Yesus yang mula-mula juga disebut dengan sebutan IESSAIOI - Tunas Isai (Panarion 29 1, 3-9; 4,9).
Beberapa sarjana lain sebaliknya lebih meyakini bahwa kata Nasrani berasal dari kata Ibrani נזיר - NAZIR, yaitu sebutan untuk orang yang menyerahkan hidupnya untuk Allah seperti Samson (Hakim-hakim 13:5) dan Samuel (1 Raja-raja 1:11).
Menurut keterangan Hegesippus yang dikutip oleh Eusebius, Yakobus pemimpin sekte Nasrani hidup sebagai seorang nazir, tidak minum anggur, tidak makan daging dan tidak mencukur rambut (Historia Ecclesia II,xxiii). Praktek menahirkan diri nampaknya dilakukan oleh para pengikut Yesus mula-mula seperti yang terlihat dalam Kisah Para Rasul 21:23. Nazar yang dilakukan oleh Paulus di dalam Kisah Para Rasul 18:18 boleh jadi merupakan praktek yang serupa.
Satu lagi teori mengatakan bahwa kata Nasrani berasal dari kata Ibrani נצר - NATZAR/ NATSAR yang artinya "menaati, memelihara, menjaga". Kata ini dengan mudah bisa dihubungkan dengan istilah Yahudi NOTSRAY HATÔRÂH yang artinya "penjaga atau pemelihara Taurat". Istilah ini memang cocok sekali dengan cara hidup para pengikut Yesus yang mula-mula tetapi akan menjadi paradoks mengingat siapa pemberi nama Nasrani itu. Jika orang-orang Yahudi Farisi memberikan nama Nasrani dengan pengertian bahwa pengikut Yesus adalah "penjaga Taurat", lalu apa peranan yang tersisa untuk mereka sendiri?
Mungkin nama Nasrani diambil dari kota kelahiran Yesus, Nazaret adalah jawaban yang terbaik.
Istilah lain yang diberikan kepada para pengikut Yesus yang mula-mula adalah אביונים - "EVYÔNÎM" (orang miskin) diambil dari khotbah Yesus, "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga." (Matius 5:3). Hal ini juga tercermin dalam kehidupan para pengikut Yesus yang mula-mula yang sangat bersahaja (Kisah Para Rasul 2:45, 2 Korintus 8:9).
Satu istilah yang tidak kalah pentingnya adalah kata Kristen (χριστιανος - KHRISTIANOS, Kisah Para Rasul 11:26) yang sekarang digunakan secara luas untuk menyebut barangsiapa yang percaya kepada Yesus Kristus, - Katolik, Protestan, Maronit, Jacobite, Koptik, Mormon, dan seterusnya. Istilah ini muncul di kalangan orang percaya bukan Yahudi di Antiokhia, sebuah kota koloni Yunani di luar Palestina, beberapa dekade setelah kenaikan Yesus.
Secara literal, Kristen berarti "pengikut Kristus" atau "pengikut Mesias" (Mesianik), sehingga sekte Nasrani boleh juga disebut sebagai Yahudi Mesianik, untuk membedakannya dengan Yahudi Rabbinik (agama Yahudi modern).
Menarik untuk disimak bahwa para pengikut Yesus yang mula-mula tidak menyebut diri mereka נצרים - NATSRÎM, אביונים - "EVYÔNÎM", atau χριστιανος – KHRISTIANOS. Mereka lebih memilih menyebut diri mereka pengikut "Jalan Tuhan" (Kisah Para Rasul 9:2, 13:10, 18:25, 19:9, 23, 22:4-5, 24:14, 22) atau "Jalan Allah" (Matius 22:16, Lukas 20:21, Kisah Para Rasul 18:26) atau "Jalan Kebenaran" (2 Petrus 2:2,21).
[Dikutip dan diedit seperlunya dari literatur kalangan Yudaisme Mesianik ].
Sumber : Yohannes/ Biblika
LAI TB, Telah nyata kepada kami, bahwa orang ini adalah penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara semua orang Yahudi di seluruh dunia yang beradab, dan bahwa ia adalah seorang tokoh dari sekte orang Nasrani
LAI TB (edisi-2), Kami dapati bahwa orang ini adalah penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara semua orang Yahudi di seluruh dunia dan bahwa ia adalah seorang tokoh dari aliran Nasrani.
KJV, For we have found this man a pestilent fellow, and a mover of sedition among all the Jews throughout the world, and a ringleader of the sect of the Nazarenes
NIV, We have found this man to be a troublemaker, stirring up riots among the Jews all over the world. He is a ringleader of the Nazarene sect
TR, ευροντες γαρ τον ανδρα τουτον λοιμον και κινουντα στασιν πασιν τοις ιουδαιοις τοις κατα την οικουμενην πρωτοστατην τε της των ναζωραιων αιρεσεως
Translit interlinear, heurontes {setelah menemukan} gar {karena} ton andra {orang} touton {ini} loimon {seperti wabah (yang membahayakan)} kai {dan} kinounta {menimbulkan} stasin {pertengkaran2} pasin {(diantara) semua} tois {orang2} ioudaiois {Yahudi} tois kata {diseluruh} tên oikoumenên {dunia} prôtostatên {pemimpin} te {dan} tês tôn {orang2} nazôraiôn {nasrani} haireseôs {dari sekte}
The Orthodox Jewish Brit Chadasha , For having found this man a troublemaker and an inciter of riots among all the Yehudim throughout kol ha'aretz, a manhig of the kat, the Natzrati Kat.
HaBrit HaKhadasya (Translit), 'ANAKHNÛ MÂTSÂ'NÛ 'ET-HÂ'ÎSY HAZEH KADEVER YAHAKHA LOMESYALAKH MEDÂNÎM BÊYT KOL-HAYHÛDÎM BEKOL-HÂ'ÂRETS VEHÛ' MANHÎG LEMIFLEGET HANÂTSRÎM
Josephus, sejarawan Yahudi pada abad pertama, menulis ada tiga sekte utama di dalam Yudaisme, yaitu Farisi, Saduki dan Esseni.
Epiphanius, sejarawan Gereja pada abad keempat, mencatat ada tujuh sekte, yaitu Saduki, ahli Taurat, orang Farisi, Hemerobaptis, Ossaean, Nasaraean dan Herodian.
Para pengikut Yesus yang mula-mula juga dikenal sebagai sebuah sekte, yang disebut sebagai "sekte Nasrani" (Yunani: ναζωραιος - NAZÔRAIOS, Ibrani: נצרים - NATSRÎM).
Hegesippus, penganut Nasrani dari abad kedua, menulis selain mereka, ada tujuh sekte lain, yaitu Esseni, Galilean, Hemerobaptis, Masbothaean, Samaria, Saduki dan Farisi.
Kekeliruan dalam mengidentifikasikan sekte Nasrani disebabkan antara lain oleh banyaknya variasi nama yang beda-beda tipis seperti Nazarenus, Nazoraios, Nazaroi, Nazoraean, Nasaraean, Nazarites, Notzrim, N'tzarim, dan lain-lain.
Definisi sekte Nasrani menurut kalangan Yahudi Mesianik:
Sekte Nasrani adalah sebuah sekte dalam agama Yahudi yang hidup menuruti apa yang tertulis di dalam hukum Taurat dan percaya bahwa keselamatan datang melalui YEHÔSYUA' HAMASYIÂKH, Anak 'ELOHÎM, lahir dari perawan Mariam, mati dan bangkit, naik ke surga, duduk di sebelah kanan 'ELOHÎM Bapa, dan datang kemudian untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.
Tentang sekte ini, para Bapa Gereja memberikan kesaksian sebagai berikut:
"...yang menerima Kristus sedemikian rupa namun tanpa meninggalkan Hukum yang lama." (St. Yerome. On Isaiah 8:14).
"Pengikut sekte ini dikenal luas sebagai kaum Nasrani, mereka percaya kepada Kristus, anak Elohim, lahir dari perawan Maria, dan mereka berkata bahwa Ia yang menderita di bawah Pontius Pilatus, dan bangkit lagi, adalah orang yang sama seperti yang kita percayai." (Surat Yerome kepada Agustinus)
"Mereka tidak mempunyai pendapat yang berbeda, namun melakukan semua hal tepat seperti apa yang diperintahkan dalam Taurat, menurut tata cara Yahudi - kecuali kepercayaan mereka terhadap Mesias..." (Epiphanius. Panarion 29)
Sekte Nasrani tersusun atas kebanyakan orang Yahudi, kemudian orang-orang bukan Yahudi yang menganut agama Yahudi (Yunani: προσηλυτος - "PROSÊLUTOS"), dan mungkin pula para pengikut Yohanes Pembaptis. Mereka sangat rajin memelihara Taurat (Kisah Para Rasul 20:21) dan terus beribadah seperti orang Yahudi lainnya (Kisah Para Rasul 2:45). Kepemimpinan sekte ini secara berturut-turut dipegang oleh orang-orang yang berhubungan darah dengan Yesus, yang pertama adalah Yakobus, saudara Yesus, kedua Simeon anak Klopas, sepupu Yesus, ketiga Yustus, yang juga adalah sepupu Yesus, dan seterusnya. Paulus disebut-sebut juga sebagai salah seorang tokoh dari sekte ini (Kisah Para Rasul 24:5).
Sebutan Nasrani (Ibrani: NATSRÎM atau NETSARÎM) berasal dari kalangan Yahudi untuk menyebut para pengikut Yesus.
Kata ini muncul dua kali dalam Perjanjian baru (Kisah Para Rasul 24:5, 14) dan juga di dalam Talmud (Shabbath 116a, Gittin 57a, Avodah Zarah 48a).
Asal-usul sebutan ini berasal masih menjadi bahan perdebatan oleh para sarjana. Sebagian sarjana berpendapat bahwa nama tersebut berasal dari kata Ibrani נצר - NETSER, "tunas" yang dikaitkan dengan Yesaya 11:1 - bahwa Yesus adalah Sang Tunas. Tetapi teori ini kurang masuk akal jika mengingat sebutan Nasrani berasal dari kalangan orang Yahudi yang tidak percaya. Jika kata Nasrani benar berasal dari kata נצר - NETSER, maka berarti mereka mengakui bahwa Yesus adalah Mesias.
Epiphanius mencatat bahwa pengikut Yesus yang mula-mula juga disebut dengan sebutan IESSAIOI - Tunas Isai (Panarion 29 1, 3-9; 4,9).
Beberapa sarjana lain sebaliknya lebih meyakini bahwa kata Nasrani berasal dari kata Ibrani נזיר - NAZIR, yaitu sebutan untuk orang yang menyerahkan hidupnya untuk Allah seperti Samson (Hakim-hakim 13:5) dan Samuel (1 Raja-raja 1:11).
Menurut keterangan Hegesippus yang dikutip oleh Eusebius, Yakobus pemimpin sekte Nasrani hidup sebagai seorang nazir, tidak minum anggur, tidak makan daging dan tidak mencukur rambut (Historia Ecclesia II,xxiii). Praktek menahirkan diri nampaknya dilakukan oleh para pengikut Yesus mula-mula seperti yang terlihat dalam Kisah Para Rasul 21:23. Nazar yang dilakukan oleh Paulus di dalam Kisah Para Rasul 18:18 boleh jadi merupakan praktek yang serupa.
Satu lagi teori mengatakan bahwa kata Nasrani berasal dari kata Ibrani נצר - NATZAR/ NATSAR yang artinya "menaati, memelihara, menjaga". Kata ini dengan mudah bisa dihubungkan dengan istilah Yahudi NOTSRAY HATÔRÂH yang artinya "penjaga atau pemelihara Taurat". Istilah ini memang cocok sekali dengan cara hidup para pengikut Yesus yang mula-mula tetapi akan menjadi paradoks mengingat siapa pemberi nama Nasrani itu. Jika orang-orang Yahudi Farisi memberikan nama Nasrani dengan pengertian bahwa pengikut Yesus adalah "penjaga Taurat", lalu apa peranan yang tersisa untuk mereka sendiri?
Mungkin nama Nasrani diambil dari kota kelahiran Yesus, Nazaret adalah jawaban yang terbaik.
Istilah lain yang diberikan kepada para pengikut Yesus yang mula-mula adalah אביונים - "EVYÔNÎM" (orang miskin) diambil dari khotbah Yesus, "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga." (Matius 5:3). Hal ini juga tercermin dalam kehidupan para pengikut Yesus yang mula-mula yang sangat bersahaja (Kisah Para Rasul 2:45, 2 Korintus 8:9).
Satu istilah yang tidak kalah pentingnya adalah kata Kristen (χριστιανος - KHRISTIANOS, Kisah Para Rasul 11:26) yang sekarang digunakan secara luas untuk menyebut barangsiapa yang percaya kepada Yesus Kristus, - Katolik, Protestan, Maronit, Jacobite, Koptik, Mormon, dan seterusnya. Istilah ini muncul di kalangan orang percaya bukan Yahudi di Antiokhia, sebuah kota koloni Yunani di luar Palestina, beberapa dekade setelah kenaikan Yesus.
Secara literal, Kristen berarti "pengikut Kristus" atau "pengikut Mesias" (Mesianik), sehingga sekte Nasrani boleh juga disebut sebagai Yahudi Mesianik, untuk membedakannya dengan Yahudi Rabbinik (agama Yahudi modern).
Menarik untuk disimak bahwa para pengikut Yesus yang mula-mula tidak menyebut diri mereka נצרים - NATSRÎM, אביונים - "EVYÔNÎM", atau χριστιανος – KHRISTIANOS. Mereka lebih memilih menyebut diri mereka pengikut "Jalan Tuhan" (Kisah Para Rasul 9:2, 13:10, 18:25, 19:9, 23, 22:4-5, 24:14, 22) atau "Jalan Allah" (Matius 22:16, Lukas 20:21, Kisah Para Rasul 18:26) atau "Jalan Kebenaran" (2 Petrus 2:2,21).
[Dikutip dan diedit seperlunya dari literatur kalangan Yudaisme Mesianik ].
Sumber : Yohannes/ Biblika
NASRANI = KRISTEN?
* Kisah 24:5
LAI TB, Telah nyata kepada kami, bahwa orang ini adalah penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara semua orang Yahudi di seluruh dunia yang beradab, dan bahwa ia adalah seorang tokoh dari sekte orang Nasrani
NKJV, For we have found this man a pestilent fellow, and a mover of sedition among all the Jews throughout the world, and a ringleader of the sect of the Nazarenes:
TR, ευροντες γαρ τον ανδρα τουτον λοιμον και κινουντα στασιν πασιν τοις ιουδαιοις τοις κατα την οικουμενην πρωτοστατην τε της των ναζωραιων αιρεσεως
Translit interlinear, heurontes {setelah menemukan} gar {karena} ton andra {orang} touton {ini} loimon {seperti wabah (yang membahayakan)} kai {dan} kinounta {menimbulkan} stasin {pertengkaran2} pasin {(diantara) semua} tois {orang2} ioudaiois {Yahudi} tois kata {diseluruh} tên oikoumenên {dunia} prôtostatên {pemimpin} te {dan} tês tôn {orang2} nazôraiôn {nasrani} haireseôs {dari sekte}
Ada pengertian yang berbeda antara kata ναζωραιος - nazôraios (orang Nazareth) ; ναζωραιων αιρεσεως - nazôraiôn haireseôs (sekte Nasrani); dan Nazorea (nama salah satu Sekte gnostik Mandaean).
Penjelasannya sebagai berikut :
1. nazôraios (orang Nazareth) ;
Gelar ναζωραιος - nazôraios dalam Alkitab PB hanya ditujukan kepada Yesus --> Yesus orang Nazareth (Matius 2:23; Markus 1:24; Lukas 2:39)
* Matius 2:23
LAI TB, Setibanya di sana ia pun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret.
KJV, And he came and dwelt in a city called Nazareth: that it might be fulfilled which was spoken by the prophets, He shall be called a Nazarene.
TR, και ελθων κατωκησεν εις πολιν λεγομενην ναζαρετ οπως πληρωθη το ρηθεν δια των προφητων οτι ναζωραιος κληθησεται
Translit, kai elthôn katôkêsen eis polin legomenên nazaret hopôs plêrôthê to rêthen dia tôn prophêtôn hoti nazôraios klêthêsetai
2. nazôraiôn haireseôs (sekte Nasrani);
Dalam Kisah 24:5 tsb. Kata "Nasrani" tidak mengarah kepada pengikut Yesus Kristus , sebab sebelumnya pengikut Yesus disebut dengan nama 'Kristen' (χριστιανος - khristianos, Kisah 11:26).
Dan sebenarnya 'Sekte Nasrani' telah ada sebelum kelahiran Yesus. Namun adanya kata yang mirip "Nasrani" dan "Nazaret" menjadikan seringnya terjadi salah-pengertian dengan adanya kaitan nama Yesus dengan kota asalnya Nazaret.
Sekte Nasrani adalah sekte Yahudi pra-Kristen yang menganut mistik gnostik orang Mandaean. Sekte ini disebut dalam Epiphanus Panar.I,Haer. 29,6 & Tafsiran Jerome (Yesaya 11:1).
Dalam Talmud (Ta'an.27b); Tertulianus: Marcion IV.3; Tafsiran Jerome (Yesaya 5:18 ), sekte ini jelas menunjukkan ciri sebuah sekte Yahudi yang kemudian bersinkretisasi juga dengan kekristenan (Yohanes Pembaptis) tetapi berbeda dengan pengikut Yesus, bahkan dalam Epiphanes (Panar.I, Haer.18 ) dengan jelas dibedakan antara 'sekte Nasrani' Mandaean dengan 'umat Kristen.'
3. Nazorea (nama salah satu Sekte gnostik Mandaean)
Sekte gnostik Mandaean lainnya menyebut diri mereka dengan sebutan 'Nazorea' atau 'Natsorayya' (berasal dari kata 'na-zar') atau bahasa Siria 'natsar' (dalam logat Siria istilah Aram 'z' ditulis 'ts). Nazar/natsar berarti 'menjaga' yaitu menjaga tradisi dan mencerminkan usaha untuk mempertahankan tradisi Yahudi & Taurat dengan ketat. Tetapi, sekte ini sekaligus bersifat sinkretis dengan faham gnostik.
Sekte Nasrani bukan Kristen :
'Sekte Nasrani' sudah ada sebelum kelahiran Yesus dan adanya kaitan nama Yesus dengan kota asalnya Nazaret bukan berarti Kekristenan asalnya itu "Nasrani". Sekte Nasrani adalah sekte Yahudi pra-Kristen.
Pada awal perkembangan kekristenan di kalangan Yahudi, masih banyak yang memelihara torat seperti yang dijumpai dalam persidangan di Yerusalem (Kisah15) dan murid-murid Yakobus (Kisah 21:20), tetapi kita mengetahui bahwa kemudian mereka mengikuti ajaran Kristus melalui pengajaran Petrus dan Paulus untuk mengikuti jalan pertobatan iman kepada Tuhan Yesus Kristus dan pertolongan Roh Kudus.
Jadi dapat dimaklumi kalau para orang Kristen yang masih dalam proses transisi 'Taurat menuju Injil' itu kemudian disamakan oleh para pemimpin Yahudi dan dianggap 'sekte Nasrani' juga (Kisah 24:5).
Tetapi dengan berkembangnya waktu dan ajaran para rasul maka makin jelas beda antara mereka yang mengikuti 'sekte Nasrani' dengan yang mengikuti ajaran Yesus yang kemudian disebut sebagai "Kristen" (Kisah 11:26;26:28; 1 Petrus 4:16)
Dalam Kitab-Suci umat Muslim, pengikut Yesus disebut sebagai 'Nasrani' (Nashara, Sura. 5:82) Ini bisa dimaklumi mengingat bahwa latar belakang Islam banyak berinteraksi dengan agama Yahudi (terutama di Medinah) dan menggunakan julukan orang Yahudi kepada orang Kristen sebagai julukan mereka juga.
* Qs 5:82
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani". Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.
bandingkan dengan Terjemahan Bahasa Inggris dibawah ini yang 'mengganti' kata NASHARA menjadi Christian :
* Terjemahan Mohammed Marmaduke Pickthall,
Qs 5:82
Thou wilt find the most vehement of mankind in hostility to those who believe (to be) the Jews and the idolaters. And thou wilt find the nearest of them in affection to those who believe (to be) those who say: Lo! We are Christians. That is because there are among them priests and monks, and because they are not proud.
* Terjemahan Abdullah Yusuf Ali,
Qs 5:82
Strongest among men in enmity to the believers will you find the Jews and Pagans; and nearest among them in love to the believers will you find those who say, "We are Christians": because amongst these are men devoted to learning and men who have renounced the world, and they are not arrogant."
Orang Yahudi tidak menerima 'Yesus sebagai Kristus' (Mesias) itulah sebabnya label Nasrani yang mereka pakai. Sebenarnya Kitab Suci umat Muslim sudah menggunakan nama 'Al-Masihi' (QS 4:157) yang artinya 'MESIAS' untuk menyebut Yesus (Isa), sedangkan pengikut Yesus disebut sebagai 'Masihi'. Penggunaan nama ini menurut Ensiklopedia Islam disebut disebarluaskan oleh misionaris Kristen menggantikan istilah 'Nasrani' (Nashara, QS.5:82).
Maka penyebutan yang umum kita dengar 'Nasrani' bagi kaum Kristiani sebenarnya 'kurang tepat'.
LAI TB, Telah nyata kepada kami, bahwa orang ini adalah penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara semua orang Yahudi di seluruh dunia yang beradab, dan bahwa ia adalah seorang tokoh dari sekte orang Nasrani
NKJV, For we have found this man a pestilent fellow, and a mover of sedition among all the Jews throughout the world, and a ringleader of the sect of the Nazarenes:
TR, ευροντες γαρ τον ανδρα τουτον λοιμον και κινουντα στασιν πασιν τοις ιουδαιοις τοις κατα την οικουμενην πρωτοστατην τε της των ναζωραιων αιρεσεως
Translit interlinear, heurontes {setelah menemukan} gar {karena} ton andra {orang} touton {ini} loimon {seperti wabah (yang membahayakan)} kai {dan} kinounta {menimbulkan} stasin {pertengkaran2} pasin {(diantara) semua} tois {orang2} ioudaiois {Yahudi} tois kata {diseluruh} tên oikoumenên {dunia} prôtostatên {pemimpin} te {dan} tês tôn {orang2} nazôraiôn {nasrani} haireseôs {dari sekte}
Ada pengertian yang berbeda antara kata ναζωραιος - nazôraios (orang Nazareth) ; ναζωραιων αιρεσεως - nazôraiôn haireseôs (sekte Nasrani); dan Nazorea (nama salah satu Sekte gnostik Mandaean).
Penjelasannya sebagai berikut :
1. nazôraios (orang Nazareth) ;
Gelar ναζωραιος - nazôraios dalam Alkitab PB hanya ditujukan kepada Yesus --> Yesus orang Nazareth (Matius 2:23; Markus 1:24; Lukas 2:39)
* Matius 2:23
LAI TB, Setibanya di sana ia pun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret.
KJV, And he came and dwelt in a city called Nazareth: that it might be fulfilled which was spoken by the prophets, He shall be called a Nazarene.
TR, και ελθων κατωκησεν εις πολιν λεγομενην ναζαρετ οπως πληρωθη το ρηθεν δια των προφητων οτι ναζωραιος κληθησεται
Translit, kai elthôn katôkêsen eis polin legomenên nazaret hopôs plêrôthê to rêthen dia tôn prophêtôn hoti nazôraios klêthêsetai
2. nazôraiôn haireseôs (sekte Nasrani);
Dalam Kisah 24:5 tsb. Kata "Nasrani" tidak mengarah kepada pengikut Yesus Kristus , sebab sebelumnya pengikut Yesus disebut dengan nama 'Kristen' (χριστιανος - khristianos, Kisah 11:26).
Dan sebenarnya 'Sekte Nasrani' telah ada sebelum kelahiran Yesus. Namun adanya kata yang mirip "Nasrani" dan "Nazaret" menjadikan seringnya terjadi salah-pengertian dengan adanya kaitan nama Yesus dengan kota asalnya Nazaret.
Sekte Nasrani adalah sekte Yahudi pra-Kristen yang menganut mistik gnostik orang Mandaean. Sekte ini disebut dalam Epiphanus Panar.I,Haer. 29,6 & Tafsiran Jerome (Yesaya 11:1).
Dalam Talmud (Ta'an.27b); Tertulianus: Marcion IV.3; Tafsiran Jerome (Yesaya 5:18 ), sekte ini jelas menunjukkan ciri sebuah sekte Yahudi yang kemudian bersinkretisasi juga dengan kekristenan (Yohanes Pembaptis) tetapi berbeda dengan pengikut Yesus, bahkan dalam Epiphanes (Panar.I, Haer.18 ) dengan jelas dibedakan antara 'sekte Nasrani' Mandaean dengan 'umat Kristen.'
3. Nazorea (nama salah satu Sekte gnostik Mandaean)
Sekte gnostik Mandaean lainnya menyebut diri mereka dengan sebutan 'Nazorea' atau 'Natsorayya' (berasal dari kata 'na-zar') atau bahasa Siria 'natsar' (dalam logat Siria istilah Aram 'z' ditulis 'ts). Nazar/natsar berarti 'menjaga' yaitu menjaga tradisi dan mencerminkan usaha untuk mempertahankan tradisi Yahudi & Taurat dengan ketat. Tetapi, sekte ini sekaligus bersifat sinkretis dengan faham gnostik.
Sekte Nasrani bukan Kristen :
'Sekte Nasrani' sudah ada sebelum kelahiran Yesus dan adanya kaitan nama Yesus dengan kota asalnya Nazaret bukan berarti Kekristenan asalnya itu "Nasrani". Sekte Nasrani adalah sekte Yahudi pra-Kristen.
Pada awal perkembangan kekristenan di kalangan Yahudi, masih banyak yang memelihara torat seperti yang dijumpai dalam persidangan di Yerusalem (Kisah15) dan murid-murid Yakobus (Kisah 21:20), tetapi kita mengetahui bahwa kemudian mereka mengikuti ajaran Kristus melalui pengajaran Petrus dan Paulus untuk mengikuti jalan pertobatan iman kepada Tuhan Yesus Kristus dan pertolongan Roh Kudus.
Jadi dapat dimaklumi kalau para orang Kristen yang masih dalam proses transisi 'Taurat menuju Injil' itu kemudian disamakan oleh para pemimpin Yahudi dan dianggap 'sekte Nasrani' juga (Kisah 24:5).
Tetapi dengan berkembangnya waktu dan ajaran para rasul maka makin jelas beda antara mereka yang mengikuti 'sekte Nasrani' dengan yang mengikuti ajaran Yesus yang kemudian disebut sebagai "Kristen" (Kisah 11:26;26:28; 1 Petrus 4:16)
Dalam Kitab-Suci umat Muslim, pengikut Yesus disebut sebagai 'Nasrani' (Nashara, Sura. 5:82) Ini bisa dimaklumi mengingat bahwa latar belakang Islam banyak berinteraksi dengan agama Yahudi (terutama di Medinah) dan menggunakan julukan orang Yahudi kepada orang Kristen sebagai julukan mereka juga.
* Qs 5:82
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani". Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.
bandingkan dengan Terjemahan Bahasa Inggris dibawah ini yang 'mengganti' kata NASHARA menjadi Christian :
* Terjemahan Mohammed Marmaduke Pickthall,
Qs 5:82
Thou wilt find the most vehement of mankind in hostility to those who believe (to be) the Jews and the idolaters. And thou wilt find the nearest of them in affection to those who believe (to be) those who say: Lo! We are Christians. That is because there are among them priests and monks, and because they are not proud.
* Terjemahan Abdullah Yusuf Ali,
Qs 5:82
Strongest among men in enmity to the believers will you find the Jews and Pagans; and nearest among them in love to the believers will you find those who say, "We are Christians": because amongst these are men devoted to learning and men who have renounced the world, and they are not arrogant."
Orang Yahudi tidak menerima 'Yesus sebagai Kristus' (Mesias) itulah sebabnya label Nasrani yang mereka pakai. Sebenarnya Kitab Suci umat Muslim sudah menggunakan nama 'Al-Masihi' (QS 4:157) yang artinya 'MESIAS' untuk menyebut Yesus (Isa), sedangkan pengikut Yesus disebut sebagai 'Masihi'. Penggunaan nama ini menurut Ensiklopedia Islam disebut disebarluaskan oleh misionaris Kristen menggantikan istilah 'Nasrani' (Nashara, QS.5:82).
Maka penyebutan yang umum kita dengar 'Nasrani' bagi kaum Kristiani sebenarnya 'kurang tepat'.
KRISTEN, asal kata
Sebutan ini muncul 3 kali dalam Alkitab :
* Kisah Para Rasul 11:26
LAI TB, Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen."
NKJV, And when he had found him, he brought him to Antioch. So it was that for a whole year they assembled with the church and taught a great many people. And the disciples were first called Christians in Antioch.
TR, και ευρων αυτον ηγαγεν αυτον εις αντιοχειαν εγενετο δε αυτους ενιαυτον ολον συναχθηναι εν τη εκκλησια και διδαξαι οχλον ικανον χρηματισαι τε πρωτον εν αντιοχεια τους μαθητας χριστιανους
Translit interlinear, kai {dan} heurôn {setelah menemui} auton {dia} êgagen {membawa} auton {nya} eis {ke} antiokheian {antiokia} egeneto {itu terjadi} de {lalu} autous {pada mereka} eniauton {satu tahun} holon {penuh} sunakhthênai {(mereka) berkumpul} en {dalam} te ekklêsia {jemaat/ kumpulan umat} kai {dan} didaxai {mengajar} okhlon {orang-orang/ masyarakat} ikanon {banyak} khrêmatisai te {(mereka) dipanggil} prôton {(untuk) pertama kali} en {di} antiokheia {antiokia} tous mathêtas {para murid} khristianous {(orang2) Kristen}
* Kisah Para Rasul 26:28
LAI TB, Jawab Agripa: "Hampir-hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang Kristen!"
NKJV, Then Agrippa said to Paul, "You almost persuade me to become a Christian."
TR, ο δε αγριππας προς τον παυλον εφη εν ολιγω με πειθεις χριστιανον γενεσθαι
Translit interlinear, ho de {lalu} agrippas {agripa} pros ton {kepada} paulon {paulus} ephê {berkata} en {dengan} oligô {sedikit (waktu)/ mudah} me {aku} peitheis {engkau meyakinkan} khristianon {(sebagai seorang) kristen} genesthai {menjadi}
* 1 Petrus 4:16
LAI TB, Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.
NKJV, Yet if anyone suffers as a Christian, let him not be ashamed, but let him glorify God in this matter.
TR, ει δε ως χριστιανος μη αισχυνεσθω δοξαζετω δε τον θεον εν τω μερει τουτω
Translit interlinear, ei {jika} de {tetapi} hôs khristianos {sebagai seorang kristen} mê {janganlah} aiskhunesthô {ia merasa malu} doxazetô {hendaklah ia memuji} de {tetapi} ton theon {Allah} en {karena} tô {dalam} merei {memuliakan} toutô {Nya}
Kata χριστιανος - khristianos : Christian, a follower of Christ, Pengikut Kristus .
Ketiga ayat di atas mengandung gagasan bahwa Kristen adalah gelar yang diakui umum pada zaman Perjanjian Baru, sekalipun jelas ada sebutan-sebutan lain yang dipakai oleh orang Kristen sendiri, yang barangkali lebih disukai.
A. ASAL DARI SEBUTAN ITU
Istilah χριστιανος - khristianos , mungkin mulanya menggambarkan "serdadu-serdadu Kristus", atau "rumah tangga Kristus", atau "pendukung-pendukung Kristus". Lukas, yang mengenal jelas gereja Antiokhia di Siria, menempatkan pemakaian pertama sebutan itu di sana. Herodes Agripa juga menyinggung nama χριστιανος - khristianos.
Namun Kisah Para Rasul 11:26 tak dapat dipandang sebagai memastikan penanggalan asal mula gelar itu. Tapi ada alasan untuk menghubungkan kejadian itu dengan apa yang mendahuluinya, sebab Lukas baru saja menunjukkan bahwa Antiokhialah jemaat pertama dengan suatu unsur murni non-Yahudi, bekas penyembah berhala; artinya: Antiokhialah
tempat pertama di mana orang-orang non-Yahudi melihat agama Kristen lain dari mazhab Yahudi. Nama-nama yang cocok bagi orang-orang yang bertobat pasti tidak lama kemudian muncul.
Dalam beberapa sumber berpendapat bahwa kata χριστιανος - "khristianos" itu sebuah julukan yang sifatnya 'ejekan' yang berarti harfiah “Kristus-kecil” yang dilontarkan orang-orang kepada pengikut Kristus mula-mula/ Jemaat mula-mula
tuh kristus kecil.....
hei kristus kecil!
pergi kamu kristus kecil!
Kemudian nama ini menjadi nama yang legitimate untuk menyebut kelompok orang yang percaya Kristus.
Bagaimanapun juga sebutan "Kristen" atau χριστιανος - khristianos, telah baku pada tahun 60-an Masehi. Herodes Agripa yang licik memakainya pasti untuk menyindir Paulus. Petrus, mungkin dari Roma, sebelum penghambatan oleh Nero, mengingatkan "para orang pilihan" di bagian-bagian Asia Kecil, supaya seorang pun jangan malu jika dipanggil untuk menderita sebagai Kristen. Nero melancarkan tuduhan-tuduhan palsu terhadap suatu mazhab yang masyarakat umum 'sedang menyebutnya' ('appellabat' - bentuk masa kata kerjanya penting) "orang Kristen".
B. SUMBER SEBUTAN ITU
Kata χρηματισαι - 'khrêmatisai' (terjemahan Bahasa Indonesia "disebut") dalam Kisah Para Rasul 11:26 ditafsirkan bermacam-macam. Ada terjemahan "menyebut diri mereka", berpendapat bahwa "Kristen" adalah sebutan yang diciptakan di jemaat Antiokhia. Terjemahannya memang mungkin, tapi tidak harus begitu. Agaknya lebih sesuai jika masyarakat non-Kristen Antiokhia-lah yang menciptakan sebutan itu. Di lain tempat, memang masyarakat non-Kristenlah yang menggunakan sebutan itu.
χρηματισαι - 'khrêmatisai' sering diterjemahkan "disebut di depan umum" untuk menunjuk kepada perbuatan resmi dalam mendaftarkan mazhab baru di bawah nama "orang-orang Kristen". (Pendaftaran dengan mudah akan menerangkan adanya sebuah sebutan Latin). Tapi kata itu dapat dipakai lebih bebas, dan barangkali Lukas bermaksud tidak lebih dari menunjukkan, bahwa sebutan itu dipakai umum di kota pertama, di mana sebuah sebutan yang menunjukkan perbedaan sangat diperlukan. Dari sini mungkin dengan cepat dan mudah menjadi resmi dan umum.
C. PEMAKAIAN BERIKUTNYA
Jika sebutan "Kristen" mulanya nama ejekan, nama itu, seperti halnya sebutan "Metodis" pada waktu yang lebih kemudian, diterima oleh mereka yang diejek. Lama-kelamaan orang percaya harus menjawab pertanyaan "Apakah kamu Kristen?" Tidaklah memalukan untuk menerima maksud sebuah nama kehinaan, jika nama itu berisi Nama Juruselamat. Dan nama itu mempunyai kelayakan tertentu: ia memusatkan perhatian kepada unsur yang membedakan di dalam agama baru ini, yakni bahwa agama itu berpusat kepada Pribadi Kristus. Jika nama χριστος - 'khristos' tidak dimengerti oleh kebanyakan non-Kristen, dan mereka kadang-kadang mengacaukannya dengan nama umum χρηστος - 'khrêstos', yang berarti "baik, baik hati, kemurahan hati", hal itu adalah 'paronomasia', permainan kata, yang dapat dipakai untuk menghasilkan yang baik. Demikianlah dalam kepustakaan awal abad 2, nama itu dipakai tanpa persoalan oleh uskup Kristen Ignatius (di Antiokhia) dan oleh wali negeri Pliny (di daerah yang disebut dalam 1 Petrus).
Sumber kepustakaan:
Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid 1 halaman 593-594
dan beberapa sumber
* Kisah Para Rasul 11:26
LAI TB, Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen."
NKJV, And when he had found him, he brought him to Antioch. So it was that for a whole year they assembled with the church and taught a great many people. And the disciples were first called Christians in Antioch.
TR, και ευρων αυτον ηγαγεν αυτον εις αντιοχειαν εγενετο δε αυτους ενιαυτον ολον συναχθηναι εν τη εκκλησια και διδαξαι οχλον ικανον χρηματισαι τε πρωτον εν αντιοχεια τους μαθητας χριστιανους
Translit interlinear, kai {dan} heurôn {setelah menemui} auton {dia} êgagen {membawa} auton {nya} eis {ke} antiokheian {antiokia} egeneto {itu terjadi} de {lalu} autous {pada mereka} eniauton {satu tahun} holon {penuh} sunakhthênai {(mereka) berkumpul} en {dalam} te ekklêsia {jemaat/ kumpulan umat} kai {dan} didaxai {mengajar} okhlon {orang-orang/ masyarakat} ikanon {banyak} khrêmatisai te {(mereka) dipanggil} prôton {(untuk) pertama kali} en {di} antiokheia {antiokia} tous mathêtas {para murid} khristianous {(orang2) Kristen}
* Kisah Para Rasul 26:28
LAI TB, Jawab Agripa: "Hampir-hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang Kristen!"
NKJV, Then Agrippa said to Paul, "You almost persuade me to become a Christian."
TR, ο δε αγριππας προς τον παυλον εφη εν ολιγω με πειθεις χριστιανον γενεσθαι
Translit interlinear, ho de {lalu} agrippas {agripa} pros ton {kepada} paulon {paulus} ephê {berkata} en {dengan} oligô {sedikit (waktu)/ mudah} me {aku} peitheis {engkau meyakinkan} khristianon {(sebagai seorang) kristen} genesthai {menjadi}
* 1 Petrus 4:16
LAI TB, Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.
NKJV, Yet if anyone suffers as a Christian, let him not be ashamed, but let him glorify God in this matter.
TR, ει δε ως χριστιανος μη αισχυνεσθω δοξαζετω δε τον θεον εν τω μερει τουτω
Translit interlinear, ei {jika} de {tetapi} hôs khristianos {sebagai seorang kristen} mê {janganlah} aiskhunesthô {ia merasa malu} doxazetô {hendaklah ia memuji} de {tetapi} ton theon {Allah} en {karena} tô {dalam} merei {memuliakan} toutô {Nya}
Kata χριστιανος - khristianos : Christian, a follower of Christ, Pengikut Kristus .
Ketiga ayat di atas mengandung gagasan bahwa Kristen adalah gelar yang diakui umum pada zaman Perjanjian Baru, sekalipun jelas ada sebutan-sebutan lain yang dipakai oleh orang Kristen sendiri, yang barangkali lebih disukai.
A. ASAL DARI SEBUTAN ITU
Istilah χριστιανος - khristianos , mungkin mulanya menggambarkan "serdadu-serdadu Kristus", atau "rumah tangga Kristus", atau "pendukung-pendukung Kristus". Lukas, yang mengenal jelas gereja Antiokhia di Siria, menempatkan pemakaian pertama sebutan itu di sana. Herodes Agripa juga menyinggung nama χριστιανος - khristianos.
Namun Kisah Para Rasul 11:26 tak dapat dipandang sebagai memastikan penanggalan asal mula gelar itu. Tapi ada alasan untuk menghubungkan kejadian itu dengan apa yang mendahuluinya, sebab Lukas baru saja menunjukkan bahwa Antiokhialah jemaat pertama dengan suatu unsur murni non-Yahudi, bekas penyembah berhala; artinya: Antiokhialah
tempat pertama di mana orang-orang non-Yahudi melihat agama Kristen lain dari mazhab Yahudi. Nama-nama yang cocok bagi orang-orang yang bertobat pasti tidak lama kemudian muncul.
Dalam beberapa sumber berpendapat bahwa kata χριστιανος - "khristianos" itu sebuah julukan yang sifatnya 'ejekan' yang berarti harfiah “Kristus-kecil” yang dilontarkan orang-orang kepada pengikut Kristus mula-mula/ Jemaat mula-mula
tuh kristus kecil.....
hei kristus kecil!
pergi kamu kristus kecil!
Kemudian nama ini menjadi nama yang legitimate untuk menyebut kelompok orang yang percaya Kristus.
Bagaimanapun juga sebutan "Kristen" atau χριστιανος - khristianos, telah baku pada tahun 60-an Masehi. Herodes Agripa yang licik memakainya pasti untuk menyindir Paulus. Petrus, mungkin dari Roma, sebelum penghambatan oleh Nero, mengingatkan "para orang pilihan" di bagian-bagian Asia Kecil, supaya seorang pun jangan malu jika dipanggil untuk menderita sebagai Kristen. Nero melancarkan tuduhan-tuduhan palsu terhadap suatu mazhab yang masyarakat umum 'sedang menyebutnya' ('appellabat' - bentuk masa kata kerjanya penting) "orang Kristen".
B. SUMBER SEBUTAN ITU
Kata χρηματισαι - 'khrêmatisai' (terjemahan Bahasa Indonesia "disebut") dalam Kisah Para Rasul 11:26 ditafsirkan bermacam-macam. Ada terjemahan "menyebut diri mereka", berpendapat bahwa "Kristen" adalah sebutan yang diciptakan di jemaat Antiokhia. Terjemahannya memang mungkin, tapi tidak harus begitu. Agaknya lebih sesuai jika masyarakat non-Kristen Antiokhia-lah yang menciptakan sebutan itu. Di lain tempat, memang masyarakat non-Kristenlah yang menggunakan sebutan itu.
χρηματισαι - 'khrêmatisai' sering diterjemahkan "disebut di depan umum" untuk menunjuk kepada perbuatan resmi dalam mendaftarkan mazhab baru di bawah nama "orang-orang Kristen". (Pendaftaran dengan mudah akan menerangkan adanya sebuah sebutan Latin). Tapi kata itu dapat dipakai lebih bebas, dan barangkali Lukas bermaksud tidak lebih dari menunjukkan, bahwa sebutan itu dipakai umum di kota pertama, di mana sebuah sebutan yang menunjukkan perbedaan sangat diperlukan. Dari sini mungkin dengan cepat dan mudah menjadi resmi dan umum.
C. PEMAKAIAN BERIKUTNYA
Jika sebutan "Kristen" mulanya nama ejekan, nama itu, seperti halnya sebutan "Metodis" pada waktu yang lebih kemudian, diterima oleh mereka yang diejek. Lama-kelamaan orang percaya harus menjawab pertanyaan "Apakah kamu Kristen?" Tidaklah memalukan untuk menerima maksud sebuah nama kehinaan, jika nama itu berisi Nama Juruselamat. Dan nama itu mempunyai kelayakan tertentu: ia memusatkan perhatian kepada unsur yang membedakan di dalam agama baru ini, yakni bahwa agama itu berpusat kepada Pribadi Kristus. Jika nama χριστος - 'khristos' tidak dimengerti oleh kebanyakan non-Kristen, dan mereka kadang-kadang mengacaukannya dengan nama umum χρηστος - 'khrêstos', yang berarti "baik, baik hati, kemurahan hati", hal itu adalah 'paronomasia', permainan kata, yang dapat dipakai untuk menghasilkan yang baik. Demikianlah dalam kepustakaan awal abad 2, nama itu dipakai tanpa persoalan oleh uskup Kristen Ignatius (di Antiokhia) dan oleh wali negeri Pliny (di daerah yang disebut dalam 1 Petrus).
Sumber kepustakaan:
Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid 1 halaman 593-594
dan beberapa sumber
GEREJA DI ANTIOKHIA
Kota Antiokhia dibangun oleh Seleukus Nicator dalam tahun 300 Sm. Di bawah pemerintahan raja-raja Seleuk yang pertama ia berkembang dengan pesat. Pada mulanya kota ini sepenuhnya dihuni oleh orang-orang Yunani, namun kemudian orang-orang Siria menetap di luar tembok kota dan akhirnya menyatu dengan kota sejalan dengan perkembangan kota itu. Unsur penduduk yang ketiga adalah orang-orang Yahudi, banyak di antaranya yang merupakan keturunan dari penghuni kota pertama yang didatangkan dari Babilon. Mereka mempunyai hak-hak yang sama dengan orang Yunani dan tetap menjalankan ibadat mereka di sinagoge-sinagoge. Di bawah pemerintahan Romawi, Antiokhia menjadi makmur. Karena merupakan pintu gerbang militer dan perniagaan ke Timur, ia menjadi kota yang terbesar setelah Roma dan Aleksandria.
Tahun berdirinya gereja di Antiokhia tidak dinyatakan dengan jelas. Nampaknya ia berdiri tidak lama setelah kematian Stefanus, mungkin sekitar tahun 33 hingga 40. Untuk mendapatkan ukuran dan reputasi yang cukup berarti hingga dapat menarik perhatian gereja di Yerusalem (11:22) tentu dibutuhkan beberapa waktu. Gereja di Yerusalem mengutus Barnabas untuk mengunjungi Antiokhia, di mana ia bekerja entah selama berapa lama, dan kemudian pergi ke Tarsus untuk meminta Paulus agar menjadi pembantunya (11:22-26). Mereka bekerja bersama-sama selama; sekurang-kurangnya satu tahun setelah itu (11:26) sebelum Agabus meramalkan bahaya kelaparan yang akan menimpa dunia "pada zaman Claudius" (11:28). Makna yang tersirat dalam ayat ini adalah bahwa; ramalan ini diberikan sebelum Claudius naik takhta pada tahun 41, dan bahwa bahaya kelaparan terjadi sesudah itu. Data kronologis lainnya diperoleh dari penyebutan tentang Herodes Agripa I (12:1), yang meninggal dunia pada tahun 44. Mungkin pelayanan di Antiokhia dimulai sekitar tahun 33 hingga 35. Bila dana bantuan kelaparan dikumpulkan sekitar tahun 44, Barnabas pasti telah mulai menjalin hubungannya dengan Antiokhia sekitar tahun 41, yang berarti bahwa Paulus mulai menjalankan tugasnya di sana pada tahun 42.
Meskipun kronologi ini tidak dapat dikatakan pasti, ia cukup sesuai dengan perkembangan kegiatan Paulus yang diketahui. Bila ia menjadi percaya dalam tahun 31 atau katakanlah 32, dan menghabiskan waktu tiga tahun di kawasan Damsyik (Galatia 1:18), ia akan tiba di Yerusalem sebelum tahun 35. Bila ia menghabiskan waktu selama satu atau dua tahun di Yerusalem sebelum kembali ke Tarsus (Kisah 9:28-30), maka ketika Bamabas datang untuk menyertainya dalam tugas barunya ia tentu sudah berkhotbah selama lima tahun di Tarsus dan Kilikia. Nampaknya ada suatu kesenjangan waktu yang cukup besar di sini, tetapi banyak kesenjangan lain dalam karangan Lukas mengenai perkara yang sama pentingnya hingga keadaan ini tidak menjadi sesuatu yang luar biasa.
Gereja di Antiokhia cukup penting, karena ia memiliki beberapa segi yang menonjol. Pertama, ia adalah induk dari gereja bagi bangsa-bangsa lain. Rumah di keluarga Kornelius tidak dapat disebut gereja dalam arti yang sama dengan kelompok umat di Antiokhia, karena ia adalah suatu kelompok keluarga pribadi bukan suatu jemaat umum. Dari gereja Antiokhia berangkatlah misi resmi yang pertama ke dunia yang belum tersentuh Injil. Di Antiokhia dimulailah perdebatan yang pertama tentang status umat Kristen dari bangsa-bangsa lain. Ia merupakan pusat tempat berkumpulnya para pemimpin gereja. Secara bergantian, Petrus, Barnabas, Titus, Yohanes Markus, Yudas Barsabas, Silas, dan bila naskah Barat benar, penulis dari buku ini sendiri, semuanya dihubungkan dengan gereja di Antiokhia. Patut untuk diperhatikan bahwa dapat dikatakan mereka semuanya terlibat dalam misi kepada bangsa-bangsa lain dan disebut-sebut dalam Surat Kiriman Paulus maupun di dalam Kisah Para Rasul.
Kitab-kitab Injil mungkin berasal dari Antiokhia. Kemungkinan hubungan di antara Markus dan Lukas maupun kenyataan pertemuan mereka di Roma barangkali dapat menjawab beberapa masalah yang sering diperdebatkan dalam masalah Sinoptis. Ignatius, uskup di Antiokhia pada akhir abad yang pertama, nampaknya nyaris hanya mengutip dari Matius, ketika ia berbicara mengenai Injil, seolah-olah Injil Matius adalah satu-satunya Injil Sinoptis yang diketahuinya. Streeter mempertahankan pendapatnya secara panjang lebar bahwa Injil Matius berasal dari Antiokhia, karena ia digunakan oleh Ignatius dan di dalam Didakhe (Ajaran Dua Belas Rasul, keduanya menurutnya adalah dokumen-dokumen orang Siria. Bila ketiga Injil Sinoptis menanamkan dasarnya pada suasana yang hidup dalam khotbah lisan gereja di Antiokhia, pelayanan firman mereka kepada dunia dapat dikatakan merupakan warisan dari gereja ini kepada bangsa-bangsa lain yang percaya dari masa yang lalu maupun masa sekarang.
Gereja di Antiokhia juga tersohor karena guru-gurunya. Di antara mereka yang disebut di dalam Kisah Para Rasul 13:1, hanya Barnabas dan Paulus yang baru dikenal dalam beberapa penyebutan belakangan, tetapi pelayanan mereka pasti telah membuat gereja ini terkenal sebagai pusat pengajaran. Jelas sekali bahwa Antiokhia telah mengalahkan Yerusalem sebagai pusat pengajaran Kristen dan sebagai markas misi penginjilan.
Mungkin perkembangan Antiokhia makin dipercepat oleh penindasan Herodes dalam tahun 44. Gereja di Yerusalem selalu dalam keadaan kekurangan dana, karena banyak anggota jemaat yang miskin yang harus selalu ditunjang oleh sumbangan-sumbangan. Bahaya kelaparan itu pasti makin melemahkan mereka, meskipun ada dana sumbangan dari Antiokhia (11:28-30). Penindasan di bawah Herodes mengakibatkan kematian Yakobus, anak Zebedeus (12:2), dan Petrus juga nyaris kehilangan nyawanya (12:17). Kisah selingan dalam 12:1-24 hanya memberikan gambaran sekilas tentang keadaan di Yerusalem, tetapi ia menunjukkan gereja yang tetap setia bertahan meskipun tekanan begitu berat, yang terus berusaha mempertahankan keberadaannya sampai saat yang terakhir.
Fakta yang paling kuat tentang gereja di Antiokhia adalah kesaksian ini. "Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen" (11:26). Sebelum itu orang-orang yang percaya kepada Kristus dianggap sebagai suatu sekte agama Yahudi, tetapi dengan masuknya bangsa-bangsa lain ke dalam kelompok mereka dan dengan makin berkembangnya sistem pengajaran yang sangat berbeda dengan hukum Musa, dunia mulai melihat perbedaan itu dan menyebut mereka dengan julukan yang lebih tepat. "Kristen" berarti "milik Kristus" seperti Herodian berarti "milik Herodes". Mungkin nama ini dimaksudkan sebagai suatu ejekan, tetapi watak para Rasul dan kesaksian yang mereka sampaikan memberikan arti yang menyanjung.
MISI KEPADA BANGSA-BANGSA LAIN
Pada tahun 46 atau sekitarnya gereja di Antiokhia telah tumbuh menjadi suatu kelompok yang mantap dan aktif. Mereka memperdalam pengetahuannya tentang iman, reputasi mereka sudah tersohor di seluruh kota hingga mereka sudah dianggap sebagai suatu kelas tersendiri sebagai orang-orang Kristen, dan mereka mendukung suatu ekspedisi ke Yerusalem untuk menyampaikan sumbangan bagi mereka yang menderita karena kelaparan. Ketika mereka sedang menjalankan ibadah sebagaimana biasanya, datanglah panggilan untuk meng-"khususkan Barnabas dan Saulus" (13:2) untuk melakukan suatu tugas khusus. Untuk menaati perintah Roh Kudus, gereja mengkhususkan kedua orang ini untuk menjalankan tugas yang baru dan mengutus mereka untuk menjalankan misinya.
Siprus
Tujuan pertama dari kegiatan mereka adalah Siprus, tempat asal Barnabas (4:36). Mungkin gereja mempunyai beberapa kepentingan di sana, karena "orang Siprus" (11:20) termasuk di antara mereka yang pertama-tama mengabarkan Injil di Antiokhia. Barnabas dan Saulus, disertai Yohanes Markus sebagai pembantu mereka, mengunjungi sinagoge-sinagoge dan memberitakan kabar baru di sana. Ketika berselisih dengan Elimas yang berusaha membelokkan iman gubernur, Paulus tampil ke depan. Karena ia tahu akan ilmu-ilmu setan yang dianut Elimas, Paulus mengecamnya di muka umum, dan mengutuknya. Gubernur terpesona melihat hukuman yang segera jatuh pada Elimas, dan "percaya" (13:12).
Tidak ada catatan statistik tentang hasil penginjilan di Siprus, tetapi ada suatu perubahan penting yang terjadi. Dalam Kisah Para Rasul 13:2 kelompok mereka disebut "Barnabas dan Saulus," yang menempatkan Barnabas pada posisi yang lebih menonjol sebagai penginjil yang lebih senior, dan menyebut Paulus dengan nama Yahudinya. Dalam Kisah Para Rasul 13:13 peristilahan yang dipakai berubah menjadi "Paulus dan kawan-kawannya," dengan menggunakan nama Yunani Paulus. Dari titik inilah di kisah ini Paulus menjadi tokoh yang paling menonjol. Pelayanan di Siprus mengungkapkan bakat kepemimpinan Paulus dan menempatkannya sebagai pemimpin misi dengan suara bulat.
Dalam periode yang sama ada dua peristiwa lain yang terjadi. Paulus meninggalkan Siprus dan pindah ke Asia Kecil, dan Yohanes Markus mengundurkan diri dari kelompok mereka serta kembali ke Yerusalem. Bagi Paulus ini adalah awal dari proyek penginjilan sedunia untuk mewartakan Injil ke wilayah-wilayah yang belum terjamah. Markus nampaknya seolah-olah telah menyimpang secara tidak benar dari suatu program yang sudah ditetapkan. Apakah ia merasa iri hati karena saudaranya, Barnabas, yang didudukkan di tempat kedua, atau ia merasa takut memasuki wilayah yang liar di pedalaman Asia Kecil, atau ia mempunyai perbedaan prinsip dengan Paulus, tidak pernah diceritakan. Yang jelas ia tidak mau melanjutkan perjalanannya lebih lanjut dan kembali pulang.
Antiokhia di Pisidia
Khotbah Paulus di dalam sinagoge di Antiokhia di Pisidia, dikutip secara panjang lebar oleh Lukas (Kisah 13:16-43). Secara umum gaya pidatonya menyerupai gaya Stefanus, karena ia menggunakan cara pendekatan dengan mengulang kembali sejarah hubungan Allah dengan bangsa Israel. Tema utamanya diperkenalkan dalam ayat 23: "dari keturunannyalah sesuai dengan yang telah dijanjikannya, Allah telah membangkitkan Juruselamat bagi orang Israel, yaitu Yesus . . . " Pengembangan tema ini tidak jauh menyimpang dari khotbah-khotbah apostolik yang telah dikutip dalam pasal-pasal Kisah Para Rasul terdahulu, tetapi ketika Paulus tiba pada puncak pidatonya ia mengemukakan suatu unsur yang baru:
Jadi ketahuilah, hai saudara-saudara, oleh karena Dialah maka diberitakan kepada kamu pengampunan dosa. Dan di dalam Dialah setiap orang yang percaya memperoleh pembebasan dari segala dosa, yang tidak dapat kamu peroleh dari hukum Musa (Kisah 13:38-39).
Meskipun Petrus telah memaklumkan kebangkitan dan pengampunan dari dosa melalui Kristus (2:32, 36, 38; 3:15, 19; 5:30-31; 10:40, 43), baru pertama kali itulah ada orang mengatakan dengan jelas bahwa setiap orang dapat dibenarkan di hadapan Allah hanya karena iman. Dibenarkan berarti dinyatakan benar, atau secara hukum dianggap benar. Jaminan akan keselamatan dapat diperoleh hanya dengan iman kepada . Allah, berarti hukum Taurat akan kehilangan artinya dan menjadi sia-sia.
Ini adalah suatu terobosan yang baru dan berani dalam kebenaran tentang Kristus.
Akibat dari pernyataan ini timbul dua macam reaksi. Di satu pihak ada tanggapan luar biasa atas pidato Paulus, karena "pada hari Sabat berikutnya datanglah hampir seluruh kota itu berkumpul untuk mendengar firman Allah" (13:44). Di lain pihak, orang-orang Yahudi yang menentang mereka penuh dengan perasaan dengki hingga merasa iri hati dan memfitnah (13:45). Akhirnya Paulus menyatakan bahwa ia akan berpaling kepada bangsa-bangsa lain, yang sebagian daripadanya sudah menjadi percaya (13:48). Maka gereja yang baru di Antiokhia di Pisidia tidak berpusat pada orang-orang Yahudi melainkan pada orang-orang bukan Yahudi.
Ikonium, Listra, dan Derbe
Keadaan yang sama terjadi di kota Ikonium, yang terletak agak ke sebelah tenggara dari Antiokhia. Jemaat Kristen yang subur dibangun di dalam sinagoge, tetapi pertentangan pendapat begitu hebat hingga para pengkhotbah diusir dari kota dan bersembunyi di kota-kota sekitarnya, yaitu Listra dan Derbe.
Di Listra Paulus menghadiri orang-orang yang memuja berhala. Imam dewa Zeus yang datang dari luar kota (14:13), ketika melihat bagaimana Paulus menyembuhkan orang lumpuh mengira bahwa Paulus dan Barnabas adalah dewa-dewa yang turun ke bumi, dan mencoba untuk mempersembahkan kurban bagi mereka. Protes keras Paulus terhadap kesalahan ini, menimbulkan gagasan baru bagi metode pendekatannya ke dalam alam pemikiran kafir, yang buta terhadap Perjanjian Lama. Ia dan Barnabas berbicara tentang Allah yang esa yang memberikan "hujan dari langit dan ... musim-musim subur" (14:17), suatu titik pertemuan yang dapat diterima oleh para petani sederhana di kawasan itu apakah mereka mempunyai pengetahuan formal tentang teologi atau tidak.
Pelayanan mereka di Listra terputus oleh serangan mendadak dari orang-orang Yahudi yang memusuhi mereka dari Antiokhia di Pisidia dan Ikonium, yang membujuk orang-orang yang kurang berpengetahuan dan mudah terpengaruh itu bahwa Paulus adalah seorang tukang propaganda yang berbahaya. Ia dilempari batu dan diseret ke luar kota seperti orang mati, tetapi ia sadar kembali lalu meninggalkan kota itu menuju ke Derbe untuk mengajar di sana. Setelah menghimpun sejumlah orang percaya di kota itu, Paulus dan Barnabas menoleh kembali kepada jejak-jejak yang mereka tinggalkan, untuk memperkokoh dan membenahi gereja- gereja yang telah mereka bangun. Mereka kembali ke Antiokhia Siria untuk melaporkan apa-apa yang telah diperbuat Allah bersama mereka, dan menunjukkan bagaimana " . . . ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman" (14:27).
Tidaklah berlebih-lebihan bila dikatakan bahwa laporan perjalanan ini sangat penting. Hal ini membawa Paulus ke garis depan sebagai seorang pemimpin gereja, dan menyejajarkannya dengan para rasul (band. Galatia 2:7-9). Ia juga memberikan andil bagi pendidikan Yohanes Markus, meskipun nampaknya ia sudah membuat suatu kegagalan besar. Hubungan awal dengan Timotius mungkin terjadi selama perjalanan ini, karena Paulus berbicara tentang pengalamannya di kawasan ini ketika ia menulis kepada Timotius bertahun-tahun sesudahnya (2Timotius 3:11). Di atas segalanya, ia menandai suatu tolok ukur baru di dalam pemikiran teologis gereja, karena dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam perjalanan ini lahirlah ajaran Paulus tentang pembenaran karena iman.
Sumber :
Merrill C. Tenney Survei Perjanjian Baru, Gandum Mas, Malang, 2000, Halaman : 110 - 116
Top
Tahun berdirinya gereja di Antiokhia tidak dinyatakan dengan jelas. Nampaknya ia berdiri tidak lama setelah kematian Stefanus, mungkin sekitar tahun 33 hingga 40. Untuk mendapatkan ukuran dan reputasi yang cukup berarti hingga dapat menarik perhatian gereja di Yerusalem (11:22) tentu dibutuhkan beberapa waktu. Gereja di Yerusalem mengutus Barnabas untuk mengunjungi Antiokhia, di mana ia bekerja entah selama berapa lama, dan kemudian pergi ke Tarsus untuk meminta Paulus agar menjadi pembantunya (11:22-26). Mereka bekerja bersama-sama selama; sekurang-kurangnya satu tahun setelah itu (11:26) sebelum Agabus meramalkan bahaya kelaparan yang akan menimpa dunia "pada zaman Claudius" (11:28). Makna yang tersirat dalam ayat ini adalah bahwa; ramalan ini diberikan sebelum Claudius naik takhta pada tahun 41, dan bahwa bahaya kelaparan terjadi sesudah itu. Data kronologis lainnya diperoleh dari penyebutan tentang Herodes Agripa I (12:1), yang meninggal dunia pada tahun 44. Mungkin pelayanan di Antiokhia dimulai sekitar tahun 33 hingga 35. Bila dana bantuan kelaparan dikumpulkan sekitar tahun 44, Barnabas pasti telah mulai menjalin hubungannya dengan Antiokhia sekitar tahun 41, yang berarti bahwa Paulus mulai menjalankan tugasnya di sana pada tahun 42.
Meskipun kronologi ini tidak dapat dikatakan pasti, ia cukup sesuai dengan perkembangan kegiatan Paulus yang diketahui. Bila ia menjadi percaya dalam tahun 31 atau katakanlah 32, dan menghabiskan waktu tiga tahun di kawasan Damsyik (Galatia 1:18), ia akan tiba di Yerusalem sebelum tahun 35. Bila ia menghabiskan waktu selama satu atau dua tahun di Yerusalem sebelum kembali ke Tarsus (Kisah 9:28-30), maka ketika Bamabas datang untuk menyertainya dalam tugas barunya ia tentu sudah berkhotbah selama lima tahun di Tarsus dan Kilikia. Nampaknya ada suatu kesenjangan waktu yang cukup besar di sini, tetapi banyak kesenjangan lain dalam karangan Lukas mengenai perkara yang sama pentingnya hingga keadaan ini tidak menjadi sesuatu yang luar biasa.
Gereja di Antiokhia cukup penting, karena ia memiliki beberapa segi yang menonjol. Pertama, ia adalah induk dari gereja bagi bangsa-bangsa lain. Rumah di keluarga Kornelius tidak dapat disebut gereja dalam arti yang sama dengan kelompok umat di Antiokhia, karena ia adalah suatu kelompok keluarga pribadi bukan suatu jemaat umum. Dari gereja Antiokhia berangkatlah misi resmi yang pertama ke dunia yang belum tersentuh Injil. Di Antiokhia dimulailah perdebatan yang pertama tentang status umat Kristen dari bangsa-bangsa lain. Ia merupakan pusat tempat berkumpulnya para pemimpin gereja. Secara bergantian, Petrus, Barnabas, Titus, Yohanes Markus, Yudas Barsabas, Silas, dan bila naskah Barat benar, penulis dari buku ini sendiri, semuanya dihubungkan dengan gereja di Antiokhia. Patut untuk diperhatikan bahwa dapat dikatakan mereka semuanya terlibat dalam misi kepada bangsa-bangsa lain dan disebut-sebut dalam Surat Kiriman Paulus maupun di dalam Kisah Para Rasul.
Kitab-kitab Injil mungkin berasal dari Antiokhia. Kemungkinan hubungan di antara Markus dan Lukas maupun kenyataan pertemuan mereka di Roma barangkali dapat menjawab beberapa masalah yang sering diperdebatkan dalam masalah Sinoptis. Ignatius, uskup di Antiokhia pada akhir abad yang pertama, nampaknya nyaris hanya mengutip dari Matius, ketika ia berbicara mengenai Injil, seolah-olah Injil Matius adalah satu-satunya Injil Sinoptis yang diketahuinya. Streeter mempertahankan pendapatnya secara panjang lebar bahwa Injil Matius berasal dari Antiokhia, karena ia digunakan oleh Ignatius dan di dalam Didakhe (Ajaran Dua Belas Rasul, keduanya menurutnya adalah dokumen-dokumen orang Siria. Bila ketiga Injil Sinoptis menanamkan dasarnya pada suasana yang hidup dalam khotbah lisan gereja di Antiokhia, pelayanan firman mereka kepada dunia dapat dikatakan merupakan warisan dari gereja ini kepada bangsa-bangsa lain yang percaya dari masa yang lalu maupun masa sekarang.
Gereja di Antiokhia juga tersohor karena guru-gurunya. Di antara mereka yang disebut di dalam Kisah Para Rasul 13:1, hanya Barnabas dan Paulus yang baru dikenal dalam beberapa penyebutan belakangan, tetapi pelayanan mereka pasti telah membuat gereja ini terkenal sebagai pusat pengajaran. Jelas sekali bahwa Antiokhia telah mengalahkan Yerusalem sebagai pusat pengajaran Kristen dan sebagai markas misi penginjilan.
Mungkin perkembangan Antiokhia makin dipercepat oleh penindasan Herodes dalam tahun 44. Gereja di Yerusalem selalu dalam keadaan kekurangan dana, karena banyak anggota jemaat yang miskin yang harus selalu ditunjang oleh sumbangan-sumbangan. Bahaya kelaparan itu pasti makin melemahkan mereka, meskipun ada dana sumbangan dari Antiokhia (11:28-30). Penindasan di bawah Herodes mengakibatkan kematian Yakobus, anak Zebedeus (12:2), dan Petrus juga nyaris kehilangan nyawanya (12:17). Kisah selingan dalam 12:1-24 hanya memberikan gambaran sekilas tentang keadaan di Yerusalem, tetapi ia menunjukkan gereja yang tetap setia bertahan meskipun tekanan begitu berat, yang terus berusaha mempertahankan keberadaannya sampai saat yang terakhir.
Fakta yang paling kuat tentang gereja di Antiokhia adalah kesaksian ini. "Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen" (11:26). Sebelum itu orang-orang yang percaya kepada Kristus dianggap sebagai suatu sekte agama Yahudi, tetapi dengan masuknya bangsa-bangsa lain ke dalam kelompok mereka dan dengan makin berkembangnya sistem pengajaran yang sangat berbeda dengan hukum Musa, dunia mulai melihat perbedaan itu dan menyebut mereka dengan julukan yang lebih tepat. "Kristen" berarti "milik Kristus" seperti Herodian berarti "milik Herodes". Mungkin nama ini dimaksudkan sebagai suatu ejekan, tetapi watak para Rasul dan kesaksian yang mereka sampaikan memberikan arti yang menyanjung.
MISI KEPADA BANGSA-BANGSA LAIN
Pada tahun 46 atau sekitarnya gereja di Antiokhia telah tumbuh menjadi suatu kelompok yang mantap dan aktif. Mereka memperdalam pengetahuannya tentang iman, reputasi mereka sudah tersohor di seluruh kota hingga mereka sudah dianggap sebagai suatu kelas tersendiri sebagai orang-orang Kristen, dan mereka mendukung suatu ekspedisi ke Yerusalem untuk menyampaikan sumbangan bagi mereka yang menderita karena kelaparan. Ketika mereka sedang menjalankan ibadah sebagaimana biasanya, datanglah panggilan untuk meng-"khususkan Barnabas dan Saulus" (13:2) untuk melakukan suatu tugas khusus. Untuk menaati perintah Roh Kudus, gereja mengkhususkan kedua orang ini untuk menjalankan tugas yang baru dan mengutus mereka untuk menjalankan misinya.
Siprus
Tujuan pertama dari kegiatan mereka adalah Siprus, tempat asal Barnabas (4:36). Mungkin gereja mempunyai beberapa kepentingan di sana, karena "orang Siprus" (11:20) termasuk di antara mereka yang pertama-tama mengabarkan Injil di Antiokhia. Barnabas dan Saulus, disertai Yohanes Markus sebagai pembantu mereka, mengunjungi sinagoge-sinagoge dan memberitakan kabar baru di sana. Ketika berselisih dengan Elimas yang berusaha membelokkan iman gubernur, Paulus tampil ke depan. Karena ia tahu akan ilmu-ilmu setan yang dianut Elimas, Paulus mengecamnya di muka umum, dan mengutuknya. Gubernur terpesona melihat hukuman yang segera jatuh pada Elimas, dan "percaya" (13:12).
Tidak ada catatan statistik tentang hasil penginjilan di Siprus, tetapi ada suatu perubahan penting yang terjadi. Dalam Kisah Para Rasul 13:2 kelompok mereka disebut "Barnabas dan Saulus," yang menempatkan Barnabas pada posisi yang lebih menonjol sebagai penginjil yang lebih senior, dan menyebut Paulus dengan nama Yahudinya. Dalam Kisah Para Rasul 13:13 peristilahan yang dipakai berubah menjadi "Paulus dan kawan-kawannya," dengan menggunakan nama Yunani Paulus. Dari titik inilah di kisah ini Paulus menjadi tokoh yang paling menonjol. Pelayanan di Siprus mengungkapkan bakat kepemimpinan Paulus dan menempatkannya sebagai pemimpin misi dengan suara bulat.
Dalam periode yang sama ada dua peristiwa lain yang terjadi. Paulus meninggalkan Siprus dan pindah ke Asia Kecil, dan Yohanes Markus mengundurkan diri dari kelompok mereka serta kembali ke Yerusalem. Bagi Paulus ini adalah awal dari proyek penginjilan sedunia untuk mewartakan Injil ke wilayah-wilayah yang belum terjamah. Markus nampaknya seolah-olah telah menyimpang secara tidak benar dari suatu program yang sudah ditetapkan. Apakah ia merasa iri hati karena saudaranya, Barnabas, yang didudukkan di tempat kedua, atau ia merasa takut memasuki wilayah yang liar di pedalaman Asia Kecil, atau ia mempunyai perbedaan prinsip dengan Paulus, tidak pernah diceritakan. Yang jelas ia tidak mau melanjutkan perjalanannya lebih lanjut dan kembali pulang.
Antiokhia di Pisidia
Khotbah Paulus di dalam sinagoge di Antiokhia di Pisidia, dikutip secara panjang lebar oleh Lukas (Kisah 13:16-43). Secara umum gaya pidatonya menyerupai gaya Stefanus, karena ia menggunakan cara pendekatan dengan mengulang kembali sejarah hubungan Allah dengan bangsa Israel. Tema utamanya diperkenalkan dalam ayat 23: "dari keturunannyalah sesuai dengan yang telah dijanjikannya, Allah telah membangkitkan Juruselamat bagi orang Israel, yaitu Yesus . . . " Pengembangan tema ini tidak jauh menyimpang dari khotbah-khotbah apostolik yang telah dikutip dalam pasal-pasal Kisah Para Rasul terdahulu, tetapi ketika Paulus tiba pada puncak pidatonya ia mengemukakan suatu unsur yang baru:
Jadi ketahuilah, hai saudara-saudara, oleh karena Dialah maka diberitakan kepada kamu pengampunan dosa. Dan di dalam Dialah setiap orang yang percaya memperoleh pembebasan dari segala dosa, yang tidak dapat kamu peroleh dari hukum Musa (Kisah 13:38-39).
Meskipun Petrus telah memaklumkan kebangkitan dan pengampunan dari dosa melalui Kristus (2:32, 36, 38; 3:15, 19; 5:30-31; 10:40, 43), baru pertama kali itulah ada orang mengatakan dengan jelas bahwa setiap orang dapat dibenarkan di hadapan Allah hanya karena iman. Dibenarkan berarti dinyatakan benar, atau secara hukum dianggap benar. Jaminan akan keselamatan dapat diperoleh hanya dengan iman kepada . Allah, berarti hukum Taurat akan kehilangan artinya dan menjadi sia-sia.
Ini adalah suatu terobosan yang baru dan berani dalam kebenaran tentang Kristus.
Akibat dari pernyataan ini timbul dua macam reaksi. Di satu pihak ada tanggapan luar biasa atas pidato Paulus, karena "pada hari Sabat berikutnya datanglah hampir seluruh kota itu berkumpul untuk mendengar firman Allah" (13:44). Di lain pihak, orang-orang Yahudi yang menentang mereka penuh dengan perasaan dengki hingga merasa iri hati dan memfitnah (13:45). Akhirnya Paulus menyatakan bahwa ia akan berpaling kepada bangsa-bangsa lain, yang sebagian daripadanya sudah menjadi percaya (13:48). Maka gereja yang baru di Antiokhia di Pisidia tidak berpusat pada orang-orang Yahudi melainkan pada orang-orang bukan Yahudi.
Ikonium, Listra, dan Derbe
Keadaan yang sama terjadi di kota Ikonium, yang terletak agak ke sebelah tenggara dari Antiokhia. Jemaat Kristen yang subur dibangun di dalam sinagoge, tetapi pertentangan pendapat begitu hebat hingga para pengkhotbah diusir dari kota dan bersembunyi di kota-kota sekitarnya, yaitu Listra dan Derbe.
Di Listra Paulus menghadiri orang-orang yang memuja berhala. Imam dewa Zeus yang datang dari luar kota (14:13), ketika melihat bagaimana Paulus menyembuhkan orang lumpuh mengira bahwa Paulus dan Barnabas adalah dewa-dewa yang turun ke bumi, dan mencoba untuk mempersembahkan kurban bagi mereka. Protes keras Paulus terhadap kesalahan ini, menimbulkan gagasan baru bagi metode pendekatannya ke dalam alam pemikiran kafir, yang buta terhadap Perjanjian Lama. Ia dan Barnabas berbicara tentang Allah yang esa yang memberikan "hujan dari langit dan ... musim-musim subur" (14:17), suatu titik pertemuan yang dapat diterima oleh para petani sederhana di kawasan itu apakah mereka mempunyai pengetahuan formal tentang teologi atau tidak.
Pelayanan mereka di Listra terputus oleh serangan mendadak dari orang-orang Yahudi yang memusuhi mereka dari Antiokhia di Pisidia dan Ikonium, yang membujuk orang-orang yang kurang berpengetahuan dan mudah terpengaruh itu bahwa Paulus adalah seorang tukang propaganda yang berbahaya. Ia dilempari batu dan diseret ke luar kota seperti orang mati, tetapi ia sadar kembali lalu meninggalkan kota itu menuju ke Derbe untuk mengajar di sana. Setelah menghimpun sejumlah orang percaya di kota itu, Paulus dan Barnabas menoleh kembali kepada jejak-jejak yang mereka tinggalkan, untuk memperkokoh dan membenahi gereja- gereja yang telah mereka bangun. Mereka kembali ke Antiokhia Siria untuk melaporkan apa-apa yang telah diperbuat Allah bersama mereka, dan menunjukkan bagaimana " . . . ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman" (14:27).
Tidaklah berlebih-lebihan bila dikatakan bahwa laporan perjalanan ini sangat penting. Hal ini membawa Paulus ke garis depan sebagai seorang pemimpin gereja, dan menyejajarkannya dengan para rasul (band. Galatia 2:7-9). Ia juga memberikan andil bagi pendidikan Yohanes Markus, meskipun nampaknya ia sudah membuat suatu kegagalan besar. Hubungan awal dengan Timotius mungkin terjadi selama perjalanan ini, karena Paulus berbicara tentang pengalamannya di kawasan ini ketika ia menulis kepada Timotius bertahun-tahun sesudahnya (2Timotius 3:11). Di atas segalanya, ia menandai suatu tolok ukur baru di dalam pemikiran teologis gereja, karena dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam perjalanan ini lahirlah ajaran Paulus tentang pembenaran karena iman.
Sumber :
Merrill C. Tenney Survei Perjanjian Baru, Gandum Mas, Malang, 2000, Halaman : 110 - 116
Top
LAHIRNYA JEMAAT KRISTEN
Sewaktu mereka berkumpul di balik pintu terkunci di Yerusalem pada hari-hari pertama setelah kebangkitan Yesus, para murid mengetahui bahwa lebih mudah berbicara tentang mengubah dunia daripada pergi keluar dan melakukannya. Tetapi tidak lama kemudian, sesuatu terjadi yang bukan hanya mengubah jalan pikiran mereka, tetapi yang juga memberanikan mereka untuk menyampaikan iman mereka dengan cara yang menggoncangkan seluruh dunia Romawi.
Hanya lima puluh hari setelah kematian Yesus, Petrus berdiri di depan suatu kerumunan orang banyak di Yerusalem, dan dengan berani menyatakan kerajaan Allah telah datang, dan Yesuslah Raja dan Mesiasnya. Pada waktu itu Yerusalem penuh dengan peziarah-peziarah yang datang dari seluruh penjuru kekaisaran Roma untuk merayakan Pesta Pentakosta - dan ketika Petrus berbicara, mereka tidak hanya mengerti pemberitaannya tetapi juga, dalam jumlah yang luar biasa besarnya, memberikan respons terhadapnya. Ketika Petrus menyatakan mereka harus menjadi murid-murid Yesus dengan bertobat dari dosa dan menerima hidup baru yang diberikan Allah, tiga ribu orang menerima seruannya dan menyerahkan diri mereka kepada Yesus (Kis. 2:14-42).
Apa yang sesungguhnya telah terjadi sehingga murid-murid Yesus mengalami transformasi dalam hidup mereka? Jawabannya terdapat dalam pembukaan pidato Petrus. Sebab ketika ia berdiri dan berbicara kepada orang banyak itu, Petrus mengingatkan mereka tentang suatu nats Perjanjian Lama yang menggambarkan bahwa datangnya abad baru adalah masa di mana Roh Allah akan bekerja dengan cara baru dalam hidup orang-orang. Sewaktu nabi-nabi Perjanjian Lama memandang ke masa depan, beberapa dari mereka menyadari bahwa masalah manusia tidak pernah akan selesai hingga suatu hubungan baru dijalin antara manusia dan Allah. Dosa dan ketidaktaatan manusia telah mengakibatkan kekacauan, tetapi dalam abad baru Allah tidak hanya menuntut ketaatan - Ia akan memberi mereka kekuatan moral yang baru dan kemampuan untuk menjadi manusia seperti yang dimaksudkan Allah (Yer. 31:31-34). Dalam nubuat Yoel (2:28-32), kekuatan baru untuk hidup ini dihubungkan dengan pemberian Roh Allah - dan Petrus mengambil perikop tersebut sebagai natsnya, serta menyatakan nats tersebut sedang dipenuhi dalam pengalaman murid-murid Yesus. Melalui kematian dan kebangkitan Yesus, orang-orang sekarang dapat mempunyai hubungan baru dengan Allah sendiri. Dari pengalamannya sendiri, Petrus tahu bahwa hal itu benar.
Bagi Petrus dan murid-murid lainnya, hari itu sama seperti hari-hari sebelumnya. Tetapi ketika mereka menghadapi tugas yang begitu besar dan yang tidak mungkin dilaksanakan - yang dipercayakan Yesus kepada mereka, tanpa disangka-sangka suatu kuasa yang memberi hidup masuk ke dalam kehidupan mereka. Kuasa itu merupakan suatu dinamika moral dan spiritual yang memperlengkapi para murid supaya memberi kesaksian tentang iman yang baru. Kuasa itu adalah kuasa Roh Kudus dan akan menjadikan mereka seperti Yesus. Tidaklah mudah menggambarkan dalam kata-kata apa yang mereka alami. Tetapi sebagai akibatnya, kepercayaan mereka yang ragu-ragu dan tidak pasti kepada Yesus dan janji-janji-Nya secara luar biasa diteguhkan. Sejak saat itu dan seterusnya, mereka yakin janji-janji Allah dalam Perjanjian Lama dipenuhi dalam hidup mereka sendiri - dan mereka sangat yakin bahwa Yesus yang hidup ada dan hadir bersama mereka secara unik. Jemaat telah lahir.
Seluruh kehidupan para murid mengalami perombakan sedemikian rupa, sehingga tidak diperlukan argumen lain untuk meyakinkan mereka bahwa pengalaman mereka sehari-hari merupakan akibat langsung dari kuasa dan kehadiran Yesus di dalam hidup mereka. Petrus, Yohanes dan yang lain- lainnya memiliki kuasa guna melakukan tindakan-tindakap hebat dalam nama Yesus (Kis. 2:43; 3:1-10) - dan tentunya Petrus diberikan kemampuan secara tak disangka-sangka untuk berbicara dengan kuasa kepada orang banyak yang berkumpul di Yerusalem.
Sebagai akibat semuanya ini, para rasul dan orang-orang Kristen baru begitu dikuasai oleh cinta-kasih kepada Yesus yang hidup dan kerinduan untuk melayani-Nya, sehingga kebutuhan-kebutuhan kehidupan sehari-hari terlupakan. Orang-orang Kristen selalu "bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa" (Kis. 2:42). Mereka malahan menjual harta mereka dan mengumpulkan hasil penjualan sehingga mereka dapat hidup sebagai suatu persekutuan sejati dari pengikut-pengikut Yesus. Mencari uang bukan lagi merupakan haI yang terpenting dalam hidup. Satu-satunya hal yang penting adalah memuji Allah, dan membawa berita yang-mengubah hidup kepada orang-orang lain (Kis. 2:44,47; 4:32,35).
Jemaat bertumbuh.
Pada hari-hari pertama kehidupan jemaat di Yerusalem, persahabatan terbuka dan gaya hidup sederhana dalam jemaat purba pasti terlihat sebagai menyingsingnya suatu zaman yang baru. Tetapi tidak perlu waktu lama sebelum persoalan-persoalan lain yang lebih rumit muncul, untuk memperingatkan Petrus dan lain-lainnya bahwa kerajaan Allah belum tiba dalam segala kepenuhannya. Persekutuan yang baru tergalang merupakan bukti bahwa umat baru sudah ada. Tetapi seturut berlalunya waktu, ketegangan antara masa sekarang dan masa depan yang begitu fundamental dalam pengajaran Yesus mempunyai dampak yang mengganggu kelanjutan hidup persekutuan kristen yang sedang berkembang. Selama masa hidup Yesus, gerakan mesianik baru yang dibangun-Nya itu pada umumnya hanyalah merupakan bidat setempat dalam agama Yahudi Palestina. Semua murid merupakan orang Yahudi. Walaupun logika pemberitaan dan teladan perilaku Yesus sendiri menunjukkan bahwa orang-orang bukan-Yahudi tidak dikecualikan dari keanggotaan persekutuan, hubungan orang-orang Yahudi dan bukan-Yahudi tidaklah merupakan persoalan besar pada waktu itu. Orang-orang bukan-Yahudi yang bertemu dengan Yesus adalah pribadi-pribadi tersendiri (Mrk. 7:24-30; Luk. 7:1-10). Jumlah mereka tidak besar, dan bagaimanapun juga banyak dari mereka mungkin sekali menghadiri upacara-upacara agama di sinagoge, meskipun mereka belum memeluk agama Yahudi.
Tetapi tidak lama kemudian, para pengikut Yesus dipaksa untuk mencurahkan perhatian besar terhadap seluruh persoalan hubungan antara orang-orang percaya Yahudi dan bukan-Yahudi. Walaupun mereka tidak menyadarinya, peristiwa-peristiwa pada hari Pentakosta yang direkam pada bagian Kisah Para Rasul merupakan suatu peristiwa yang menentukan dalam kehidupan jemaat muda usia itu (Kis. 2). Sebab ketika banyak di Petrus berdiri dan menerangkan ajaran Kristen kepada orang kosmolitan, Yerusalem, ia berhadapan dengan sidang pendengar yang terdiri dari "orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit" (Kis. 2:5). Tentu saja mereka semua menaruh perhatian terhadap agama Yahudi, kalau tidak mereka tidak akan mengadakan perjalanan ke Yerusalem guna menghadiri perayaan keagamaan. Tetapi tidak semua orang bukan-Yahudi di antara mereka sudah menjadi penganut penuh agama Yahudi yang menerima seluruh hukum Yahudi - sedangkan mereka yang berasal dari keluarga Yahudi pun diberbagai tempat dari kekaisaran Roma, mempunyai latar belakang dan pandangan yang agak berlainan dengan orang Yahudi yang dilahirkan dan dibesarkan di Palestina sendiri. Mayoritas dari orang banyak yang mendengar khotbah Petrus pada hari Pentakosta mungkin sekali merupakan orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani, yang telah berziarah ke Yerusalem dalam rangka pesta agama Yahudi yang besar itu. Banyak dari mereka yang baru untuk pertama kalinya mengunjungi Yerusalem. Walaupun tempat tinggal mereka sangat jauh, mereka selalu menggandrungi Yerusalem serta Bait Allah. Yang merupakan tempat suci pusat agama mereka, sama halnya bagi orang Yahudi yang tinggal di Palestina. Petrus dan murid-murid lainnya tidak ragu-ragu bahwa kabar baik tentang Yesus harus disampaikan juga kepada orang-orang tersebut. Memang, banyak persamaan di antara mereka. Para murid sendiri merupakan pendukung setia dari upacara-upacara ibadah di sinagoge. Mereka juga memelihara pesta-pesta agama Yahudi Yang besar, dan kadang-kadang mereka malahan berkhotbah di pelataran Bait Allah (Kis. 3:1-16). Hal ini merupakan sesuatu yang Yesus sendiri tidak dapat lakukan tanpa kekhawatiran akan akibat-akibatnya, dan walaupun Petrus dan Yohanes kemudian ditangkap dan dituduh di hadapan mahkamah agama Yahudi, mereka segera dibebaskan, dan satu-satunya pembatasan yang dikenakan ke atas mereka adalah supaya "sama sekali jangan berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus" (Kis. 4:18). Terlepas dari iman mereka kepada Yesus yang terasa aneh, tindak-tanduk mereka pada umumnya dapat diterima oleh para penguasa Yahudi.
Sumber :
John Drane, Memahami Perjanjian Baru, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1996, Halaman : 256 – 259
Hanya lima puluh hari setelah kematian Yesus, Petrus berdiri di depan suatu kerumunan orang banyak di Yerusalem, dan dengan berani menyatakan kerajaan Allah telah datang, dan Yesuslah Raja dan Mesiasnya. Pada waktu itu Yerusalem penuh dengan peziarah-peziarah yang datang dari seluruh penjuru kekaisaran Roma untuk merayakan Pesta Pentakosta - dan ketika Petrus berbicara, mereka tidak hanya mengerti pemberitaannya tetapi juga, dalam jumlah yang luar biasa besarnya, memberikan respons terhadapnya. Ketika Petrus menyatakan mereka harus menjadi murid-murid Yesus dengan bertobat dari dosa dan menerima hidup baru yang diberikan Allah, tiga ribu orang menerima seruannya dan menyerahkan diri mereka kepada Yesus (Kis. 2:14-42).
Apa yang sesungguhnya telah terjadi sehingga murid-murid Yesus mengalami transformasi dalam hidup mereka? Jawabannya terdapat dalam pembukaan pidato Petrus. Sebab ketika ia berdiri dan berbicara kepada orang banyak itu, Petrus mengingatkan mereka tentang suatu nats Perjanjian Lama yang menggambarkan bahwa datangnya abad baru adalah masa di mana Roh Allah akan bekerja dengan cara baru dalam hidup orang-orang. Sewaktu nabi-nabi Perjanjian Lama memandang ke masa depan, beberapa dari mereka menyadari bahwa masalah manusia tidak pernah akan selesai hingga suatu hubungan baru dijalin antara manusia dan Allah. Dosa dan ketidaktaatan manusia telah mengakibatkan kekacauan, tetapi dalam abad baru Allah tidak hanya menuntut ketaatan - Ia akan memberi mereka kekuatan moral yang baru dan kemampuan untuk menjadi manusia seperti yang dimaksudkan Allah (Yer. 31:31-34). Dalam nubuat Yoel (2:28-32), kekuatan baru untuk hidup ini dihubungkan dengan pemberian Roh Allah - dan Petrus mengambil perikop tersebut sebagai natsnya, serta menyatakan nats tersebut sedang dipenuhi dalam pengalaman murid-murid Yesus. Melalui kematian dan kebangkitan Yesus, orang-orang sekarang dapat mempunyai hubungan baru dengan Allah sendiri. Dari pengalamannya sendiri, Petrus tahu bahwa hal itu benar.
Bagi Petrus dan murid-murid lainnya, hari itu sama seperti hari-hari sebelumnya. Tetapi ketika mereka menghadapi tugas yang begitu besar dan yang tidak mungkin dilaksanakan - yang dipercayakan Yesus kepada mereka, tanpa disangka-sangka suatu kuasa yang memberi hidup masuk ke dalam kehidupan mereka. Kuasa itu merupakan suatu dinamika moral dan spiritual yang memperlengkapi para murid supaya memberi kesaksian tentang iman yang baru. Kuasa itu adalah kuasa Roh Kudus dan akan menjadikan mereka seperti Yesus. Tidaklah mudah menggambarkan dalam kata-kata apa yang mereka alami. Tetapi sebagai akibatnya, kepercayaan mereka yang ragu-ragu dan tidak pasti kepada Yesus dan janji-janji-Nya secara luar biasa diteguhkan. Sejak saat itu dan seterusnya, mereka yakin janji-janji Allah dalam Perjanjian Lama dipenuhi dalam hidup mereka sendiri - dan mereka sangat yakin bahwa Yesus yang hidup ada dan hadir bersama mereka secara unik. Jemaat telah lahir.
Seluruh kehidupan para murid mengalami perombakan sedemikian rupa, sehingga tidak diperlukan argumen lain untuk meyakinkan mereka bahwa pengalaman mereka sehari-hari merupakan akibat langsung dari kuasa dan kehadiran Yesus di dalam hidup mereka. Petrus, Yohanes dan yang lain- lainnya memiliki kuasa guna melakukan tindakan-tindakap hebat dalam nama Yesus (Kis. 2:43; 3:1-10) - dan tentunya Petrus diberikan kemampuan secara tak disangka-sangka untuk berbicara dengan kuasa kepada orang banyak yang berkumpul di Yerusalem.
Sebagai akibat semuanya ini, para rasul dan orang-orang Kristen baru begitu dikuasai oleh cinta-kasih kepada Yesus yang hidup dan kerinduan untuk melayani-Nya, sehingga kebutuhan-kebutuhan kehidupan sehari-hari terlupakan. Orang-orang Kristen selalu "bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa" (Kis. 2:42). Mereka malahan menjual harta mereka dan mengumpulkan hasil penjualan sehingga mereka dapat hidup sebagai suatu persekutuan sejati dari pengikut-pengikut Yesus. Mencari uang bukan lagi merupakan haI yang terpenting dalam hidup. Satu-satunya hal yang penting adalah memuji Allah, dan membawa berita yang-mengubah hidup kepada orang-orang lain (Kis. 2:44,47; 4:32,35).
Jemaat bertumbuh.
Pada hari-hari pertama kehidupan jemaat di Yerusalem, persahabatan terbuka dan gaya hidup sederhana dalam jemaat purba pasti terlihat sebagai menyingsingnya suatu zaman yang baru. Tetapi tidak perlu waktu lama sebelum persoalan-persoalan lain yang lebih rumit muncul, untuk memperingatkan Petrus dan lain-lainnya bahwa kerajaan Allah belum tiba dalam segala kepenuhannya. Persekutuan yang baru tergalang merupakan bukti bahwa umat baru sudah ada. Tetapi seturut berlalunya waktu, ketegangan antara masa sekarang dan masa depan yang begitu fundamental dalam pengajaran Yesus mempunyai dampak yang mengganggu kelanjutan hidup persekutuan kristen yang sedang berkembang. Selama masa hidup Yesus, gerakan mesianik baru yang dibangun-Nya itu pada umumnya hanyalah merupakan bidat setempat dalam agama Yahudi Palestina. Semua murid merupakan orang Yahudi. Walaupun logika pemberitaan dan teladan perilaku Yesus sendiri menunjukkan bahwa orang-orang bukan-Yahudi tidak dikecualikan dari keanggotaan persekutuan, hubungan orang-orang Yahudi dan bukan-Yahudi tidaklah merupakan persoalan besar pada waktu itu. Orang-orang bukan-Yahudi yang bertemu dengan Yesus adalah pribadi-pribadi tersendiri (Mrk. 7:24-30; Luk. 7:1-10). Jumlah mereka tidak besar, dan bagaimanapun juga banyak dari mereka mungkin sekali menghadiri upacara-upacara agama di sinagoge, meskipun mereka belum memeluk agama Yahudi.
Tetapi tidak lama kemudian, para pengikut Yesus dipaksa untuk mencurahkan perhatian besar terhadap seluruh persoalan hubungan antara orang-orang percaya Yahudi dan bukan-Yahudi. Walaupun mereka tidak menyadarinya, peristiwa-peristiwa pada hari Pentakosta yang direkam pada bagian Kisah Para Rasul merupakan suatu peristiwa yang menentukan dalam kehidupan jemaat muda usia itu (Kis. 2). Sebab ketika banyak di Petrus berdiri dan menerangkan ajaran Kristen kepada orang kosmolitan, Yerusalem, ia berhadapan dengan sidang pendengar yang terdiri dari "orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit" (Kis. 2:5). Tentu saja mereka semua menaruh perhatian terhadap agama Yahudi, kalau tidak mereka tidak akan mengadakan perjalanan ke Yerusalem guna menghadiri perayaan keagamaan. Tetapi tidak semua orang bukan-Yahudi di antara mereka sudah menjadi penganut penuh agama Yahudi yang menerima seluruh hukum Yahudi - sedangkan mereka yang berasal dari keluarga Yahudi pun diberbagai tempat dari kekaisaran Roma, mempunyai latar belakang dan pandangan yang agak berlainan dengan orang Yahudi yang dilahirkan dan dibesarkan di Palestina sendiri. Mayoritas dari orang banyak yang mendengar khotbah Petrus pada hari Pentakosta mungkin sekali merupakan orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani, yang telah berziarah ke Yerusalem dalam rangka pesta agama Yahudi yang besar itu. Banyak dari mereka yang baru untuk pertama kalinya mengunjungi Yerusalem. Walaupun tempat tinggal mereka sangat jauh, mereka selalu menggandrungi Yerusalem serta Bait Allah. Yang merupakan tempat suci pusat agama mereka, sama halnya bagi orang Yahudi yang tinggal di Palestina. Petrus dan murid-murid lainnya tidak ragu-ragu bahwa kabar baik tentang Yesus harus disampaikan juga kepada orang-orang tersebut. Memang, banyak persamaan di antara mereka. Para murid sendiri merupakan pendukung setia dari upacara-upacara ibadah di sinagoge. Mereka juga memelihara pesta-pesta agama Yahudi Yang besar, dan kadang-kadang mereka malahan berkhotbah di pelataran Bait Allah (Kis. 3:1-16). Hal ini merupakan sesuatu yang Yesus sendiri tidak dapat lakukan tanpa kekhawatiran akan akibat-akibatnya, dan walaupun Petrus dan Yohanes kemudian ditangkap dan dituduh di hadapan mahkamah agama Yahudi, mereka segera dibebaskan, dan satu-satunya pembatasan yang dikenakan ke atas mereka adalah supaya "sama sekali jangan berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus" (Kis. 4:18). Terlepas dari iman mereka kepada Yesus yang terasa aneh, tindak-tanduk mereka pada umumnya dapat diterima oleh para penguasa Yahudi.
Sumber :
John Drane, Memahami Perjanjian Baru, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1996, Halaman : 256 – 259
Subscribe to:
Comments (Atom)