Entri Populer

Sunday, April 3, 2011

KEPEMIMPINAN YESUS (THE LEADERSHIP OF JESUS) DALAM BUKU MEMIMPIN SEPERTI YESUS (LEAD LIKE JESUS)


Dalam buku Memimpin Seperti Yesus (Lead Like Jesus), Ken Blanchard dan Phil Hodges menjelaskan bahwa di dalam dunia ini ada banyak peran kepemimpinan yang berbeda-beda. Namun, kebanyakan dan hampir semua peran kepemimpinan yang ditemukan menunjukkan banyak contoh tentang nilai-nilai yang diabaikan, kepercayaan yang dikhianati, dan manipulasi yang dilakukan oleh orang-orang yang berkuasa dan berpengaruh yang pada akhirnya dapat menimbulkan dampak negative bagi dirinya sendiri dan orang yang mempunyai relasi dengan dia.

Blanchard dan Hodges memberikan suatu pemahaman mengenai suatu model kepemimpinan yang secara popular sering dialami oleh seorang pemimpin yakni Promosi Diri (kesombongan) dan Perlindungan Diri (ketakutan). Promosi Diri (Kesombongan) dan Perlindungan Diri (Ketakutan) merupakan motivasi yang menguasai dan mendominasi urusan kepemimpinan dan merendahkan peran dari bawahannya. Namun, mereka juga memberikan suatu cara yang dianggap lebih baik, yang bisa dipercayai, yaitu model peran kepemimpinan ala Yesus.

Yesus merupakan model cara memimpin yang menghormati Allah dan memulihkan kesehatan dan efektivitas kerja serta hubungan baik dalam organisasi. Itulah cara yang Yesus inginkan agar kita ikut sebagai pemimpin: untuk melayani, bukan untuk dilayani.
Yesus seorang pemimpin yang memimpin peran hidup dan pemimpin yang memimpin organisasi. Dalam memimpin diri sendiri maupun organisasi, Yesus mengambil teladan dari Ibu-Nya sendiri, Maria yang memberikan-Nya warisan ketaatan, kerendahan hati, iman dan pelayanan yang kaya terhadap-Nya.

Yesus menjalani peran kepemimpinan yang sangat jelas yang merupakan suatu tindakan pelayanan terhadap murid-murid-Nya. Di samping informasi tentang kepemimpinan-Nya, Yesus juga memahami situasi ataupun tantangan yang dihadapi murid-murid-Nya bahkan pengikut-Nya hingga saat ini, karena ia sendiri selama bertahun-tahun memiliki pengalaman tantangan hidup dan karya yang dihadapi-Nya. Dia menggunakan waktu selama tiga puluh tahun usia hidup-Nya di bumi sebagai seorang tukang kayu di Nazareth.

Selama masa hidup-Nya di bumi, Yesus mencurahkan seluruh hidup-Nya untuk memberikan pelatihan kepada para murid-Nya dalam tiga bidang kepemimpinan pertama: kepemimpinan personal dimana perspektif adalah hasilnya (Matius 3:13-4:11), kepemimpinan dalam hubungan satu-satu dimana hasilnya adalah kepercayaan (Matius 4:18-24), kepemimpinan tim/keluarga yang akan menghasilkan suatu komunitas/warisan (Matius 10:5-10). Selama proses itu, Dia menyiapkan mereka untuk mengikuti amanat kepemimpinan-nya sesudah Dia tidak lagi bersama mereka dan para murid-Nya yang masuk ke tingkat ke-empat: kepemimpinan organisasi/komunitas yang dapat menghasilkan suatu efektivitas/rekonsiliasi.
Pada awal pelayanan-Nya, Yesus menunjukkan keinginan-Nya untuk menggembirakan Bapa dan menyerahkan control atas hidup-Nya kepada Bapa-Nya. Yesus membuat pernyataan public tentang pilihan-Nya ketika Dia menyerahkan semua kepada Bapa-Nya dan menegaskan bahwa Yohanes membaptis-Nya “untuk memenuhi kehendak Allah” (Matius 3:15). Keinginan Yesus untuk menggembirakan Allah ditunjukkan secara dramatislagi sesudah pembaptisan-Nya, ketika Dia pergi ke padang gurun dan dicobai oleh Iblis. Peristiwa ini menunjukkan kepada kita bahwa selama masa hidup-Nya, Yesus harus menunjukkan bahwa ,ilik siapakan Dia dan siapakah Dia. Apakah hidup dengan misi yang diberikan Bapa-Nya untuk menyelesaikan tujuan Bapa-Nya atau tujuan iblis ? dalam seluruh situasi ini, Yesus memilih kehendak Bapa-nya.

Blanchard dan Hodges menegaskan bahwa seseorang dapat berpaling kepada Yesus sendiri sebagai teladan kepemimpinan satu-satu dengan hati penuh pelayanan. Pada awal pelayanan-Nya, sesudah menghabiskan beberapa waktu di padang gurun, dimana tujuan hidup dan perspektif-Nya dimurnikan melalui godaan dan pencobaan, Yesus memulai proses pemanggilan para murid-Nya. Begitu mereka setuju mengikuti-Nya, Yesus menggunakan waktu tiga tahun untuk membangun budaya kepercayaan satu sama lain. Kepercayaan antara Yesus dan murid-murid-Nya tidak akan berkembang jika Yesus tidak menggunakan waktu awal-Nya di padang gurundan memutuskan siapa yang mau Dia ikuti dalam hidup-Nya dan menjadi manusia macam apa diri-Nya kelak.

Kita dapat melihat Yesus sebagai model bagi kepemimpinan Tim. Sesudah Yesus menggunakan beberapa waktu-Nya untuk mengajar dan membentuk model kepemimpinan yang Ia ingin agar mereka pergunakan, Dia mengutus para murid-Nya untuk melayani berdua-dua atau tim duaan (Markus 6). Dengan melakukan hal itu, Yesus memberdayakan mereka untuk bertindak atas nama-Nya untuk mendukung satu sama lain dalam menyelesaikan pekerjaan yang sudah dilatihkan kepada mereka agar dilaksanakan.

Bagi Yesus kepercayaan merupakan factor kunci bagi keberhasilan pelaksanaan dalam kepemimpinan tim. Tanpa kepercayaan yang dibangun dan hubungan yang terbuka, pemberdayaan tidak akan pernah terjadi. Setiap orang dalam satu kelompok tidak akan memberdayakan satu sama lain untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang ditugaskan jika mereka tidak saling percaya. Kegagalan untuk memberdayakan adalah salah satu sebab utama mengapa suatu tim tidak berhasil.

Yesus memilih untuk mengambil pendekatan sebagai pemimpin pelayan dan mulai dengan mempengaruhi kehidupan sekelompok kecil orang. Kepada merekalah Dia memberikan kepercayaan dan kemampuan untuk mempengaruhi dunia.


Dengan menilai hubungan dan hasilnya, Yesus menciptakan lingkungan untuk mengembangkan organisasi yang efektif.Dalam hidup-Nya sendiri, Dia melaksanakan tujuan yang Bapa-Nya tetapkan bagi-Nya. Yesus mengetahui betul tujuan itu dan member tahu secara jelas kepada para pengikut-Nya dan organisasi mereka ketika Dia memberi perintah utama dan Perutusan Penting. Tetapi Yesus, dalam benttuk inkarnasi-Nya, tidak pernah menjalankan kepemimpinan itu dalam suatu organisasi. Dia mempersiapkan para murid-Nya dengan memberikan latihan tentang kepemimpinan pertama kemudian mengutus Roh kudus untuk membimbing mereka dalam menjalankan kepemimpinan organisasi, suatu proses yang berkembang dalam Kisah Para Rasul.

Yesus menggunakan waktu yang penting untuk berinteraksi secara positif dengan orang yang tidak sependapat dengan-Nya . Dia tidak mengisoslasi diri-Nya dari mereka yang tidak sependapat dengan-Nya. Dia merangkul orang yang berbeda pendapat. Dia tidak mengubah ajaran atau pesan-Nya untuk mendapat dukungan, tetapi Dia terus mencintai mereka yang tidak menerima pesan-Nya.

Selama masa hidup-Nya di bumi, Yesus membangun satu model cinta yang berkorban untuk memastikan bahwa para pengikut-Nya dipersiapkan untuk melanjutkan gerakan itu. Dia menghidupkan warisan-Nya dalam hubungan yang akrab dengan orang-orang yang ia berdayakan dengan kata-kata dan teladan-Nya. Yesus mengajukan model hati pemimpin sebagai pelayan sejati dengan mencurahkan banyak waktu pelayanan-Nya untuk melatih dan mempersiapkan para murid-Nya dengan suatu model kepemimpinan. Mendekati akhir dari masa pelayanan-Nya di bumi, Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Aku tidak memanggil kamu hamba, karena seorang hamba tidak tahu apa yang dibuat oleh tuannya. Sebaliknya, Aku memanggil kamu sahabat karena segala sesuatu yang Aku terima dari Bapa, Aku telah memberitahukan-Nya kepadamu” (Yohanes 15:15). Dia juga berkata kepada para murid-Nya – dan juga kepada kita; “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa” (Yohanes 14:12).
Yesus juga menegaskan pentingnya pengampunan dalam kepemimpinan-Nya ketika Dia berseru dari salib, “Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34). Hal ini merupakan salah satu ujian yang paling nyata tentang bagaimana Yesus memiliki sikap hati dalam menangani masalah dari orang-orang yang disekitar-Nya yang tidak melakukan atau menerima pesan-Nya.

Yesus tidak semata-mata melakukan sesuatu yang orang-orang atau para muridnya saat itu inginkan dari-Nya. Yesus secara keseluruhan berfokus pada menggembirakan Bapa-Nya sebagai Pendengar satu-satunya. Itu berarti mewartakan Injil dan membawa keselamatan kepada umat manusia. Dia mengutus para murid-Nya untuk membantu orang memahami kabar baik dan hidup seturut nilai-nilai Kerajaan Allah, bukan melakukan apa yang mereka inginkan. Yesus menjelaskan bahwa apa yang Dia minta oleh para pengikut-Nya, dalam nama-Nya, tidak bermaksud untuk menyenangkan setiap orang. Dia berkata kepada mereka sejak awal bahwa mereka harus menghadapi semua perlawanan dan penganiayaan karena mengatakan apa yang orang-orang itu tidak ingin dengar.

Yesus menegaskan visi-Nya kepada para murid-Nya ketika Dia menugaskan mereka, “Karena itu pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku, baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:19-20). Itulah gambaran-Nya tentang masa depan.

Yesus menunjukkan dasar kepemimpinan sebagai tindakan pelayanan, Dia tidak mengutus para murid-Nya untuk melayani tanpa pengarahan yang jelas. Dia tidak menuntut bahwa mereka harus pergi keluar dan membantu orang-orang untuk melakukan sesuatu yang mereka inginkan. Visi-Nya jelas. Dia mendapatkannya dari puncak Hierarki - Bapa-Nya. Sebagai “penjala manusia”, para murid harus pergi dan menjadikan semua bangsa murid-Nya, yang berfokus pertama-tama pada mengasihi Allah dan kemudian mengasihi sesama (Matius 4;19; 28:19; 22:37-40). Dan kemudian berurusan dengan pemahaman visi ini, Yesus ingin agar para murid-Nya menjadi pemimpin pelayan yang menolong orang lain untuk memahami dan percaya pada kabar gembira.

Yesus mengambil tanggung jawab untuk menindak lanjuti proklamasi diri-Nya dengan memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada para murid-Nya tentang apa yang mereka perlu persiapkan untuk menjalankan misi mereka. “Sekarang mereka tahu bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal daripada-Mu. Sebab segala Firman yang Engkau sampaikan kepada-ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar bahwa Aku datang daripada-Mu dan mereka percaya bahwa Engkaulah yang mengutus Aku” (Yohanes 17:7-8). Yesus menunjukkan tanggungjawab yang tinggi mengenai perlindungan, berlangsung terus atas para murid-Nya ketika ia mengajarkan dan mempersiapkan mereka untuk menjalankan misi-Nya. Dia berkata kepada Bapa-Nya, “Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku. Aku menjaga mereka dan tidak seorangpun dari mereka yang binasa selain Dia yang telah ditentukan untuk binasa supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci” (Yohanes 17:12).

Blanchard dan Hodges memahami bahwa memimpin seperti Yesus lebih daripada sebuah teori. Memimpin seperti Yesus lebih menekankan perubahan dalam cara orang memimpin orang lain. Itu berarti membuat suatu tekad atau niat untuk mengubah perilaku seseorang agar lebih menyerupai Yesus. Itu berarti mulai dengan pertanyaan kepada diri sendiri, “Apa yang mau Yesus lakukan?” sebelum bertindak sebagai pemimpin.

Yesus bersikap tanggap terhadap sejumlah situasi yang dihadapi-Nya dan murid-murid-Nya ketika mereka berguru kepada-Nya. Namun, Yesus menghendaki agar para murid-Nya sungguh-sungguh mampu mendapatkan inspirasi dan kesiapan secara penuh untuk menjalankan tugas menjadi “penjala manusia”. Hal ini menjadi jelas ketika kita membaca kisah tentang Petrus yang mewartakan kabar gembira dalam Kisah Para Rasul 2:36-41 dimana dalam pelayanan pewartaannya Petrus membiarkan Roh Kudus turut ambil andil dalamnya.

Selama Yesus menjalani masa kepemimpinan-Nya di dunia, Diapun mengalami tekanan dan cobaan untuk menyimpang dari jalan atau menanggapai kelemahan teman-teman atau musuh-Nya. Yesus tetap bertahan pada perjalanan misi-Nya dengan menerapkan lima kebiasaan utama yang mengatasi kekuatan negative dalam hidup-Nya, yakni keheningan, doa, belajar dan menerapkan Kitab Suci, meneriman dan menanggapi cinta Allah yang tanpa syarat dan keterlibatan dalam hubungan yang saling mendukung. Menerapkan kebiasaan- kebiasaan ini amat penting bagi mereka yang hendak mengikuti Yesus sebagai model kepemimpinan mereka. Tanpa kebiasaan hidup itu, hidup tetap menjadi pengulangan yang membosankan.
Kebiasaan Yesus mencakup penggunaan waktu untuk menjal;ani keheningan dan doa, bersandar kepada sabda Allah, percaya akan hubungan cinta-Nya tanpa syarat dengan Bapa-Nya dan menemukan kegembiraan dalam persahabatan-Nya dengan sekelompok murid-Nya. Kebiasaan-kebiasaan ini mengalir tanpa henti dari watak dasarnya dan mewarnai perjalanan hidup dan kepemimpinan-Nya. Namun kebanyakan orang harus bekerja keras untuk mendapatkan disiplin hidup seperti ini sebelum menjadi kebiasaan.

Blanchard dan Hodges mengatakan bahwa memberikan suatu pembahasan yang lengkap tentang semua aspek kehidupan yang disebut pengikut Yesus bukanlah focus dari buku ini. Tetapi penting bagi mereka untuk mendorong setiap orang untuk memulai dari memperbarui perjalanannya untuk mengembangkan lima disiplin hidup Kristiani ini sebagai unsur penting agar bisa memimpin seperti Yesus. Untuk melakukan hal itu, mereka hanya menyoroti apa yang Yesus katakan. Jika setiap orang menghadapi situasi yang sama dan mungkin terdorong untuk bertanya, “Apa yang Yesus lakukan ?”. maka setiap orang akan tahu dimana ditemukan jawaban-Nya – dalam kebiasaan-Nya.



Saya memilih buku Memimpin Seperti Yesus (Lead Like Jesus) karena dalam buku ini, Blanchard dan Hodges berbicara tentang empat bidang penting dalam diri manusia dan bagaimana mereka membantu membawa setiap orang menjadi pemimpin yang luar biasa. Keempat bidang itu mencakup:

• Hati, mengenai hal apa yang menjadi motivasi setiap orang sebagai seorang pemimpin. Apakah sebagai kepala rumah tangga, gereja, atau perusahaan besar ?
• Kepala, mengenai apa yang menjadi keyakinan dan pandangan setiap orang tentang kepemimpinan ?
• Tangan, mengenai apakah masing-masing orang telah menetapkan suatu tujuan yang jelas dan mengukur cara kerjanya, dan secara konsisten membimbing orang-orang yang dipimpinnya ?
• Kebiasaan, mengenai bagaimana setiap orang memberi kesegaran dan memperbarui diri sebagai pemimpin ?
Dalam Memimpin Seperti Yesus, setiap orang akan mendapatkan bukan hanya manfaat dari kepakaran Blanchard dan Hodges, tetapi juga alat ukur yang membantu masing-masing orang untuk menganalisa gaya kepemimpinannya.
Buku ini merupakan rancangan yang efektif untuk kepemimpinan pribadi, kepemimpinan atas satu orang, keluarga atau komunitas mulai dari dalam diri hingga dapat mengubah kehidupan orang yang menjalin hubungan dengan diri kita.
http://www.leadlikejesus.com/

No comments:

Post a Comment