Entri Populer

Wednesday, April 13, 2011

Hamster

Hamster: "This lively pet hamster will keep you company throughout the day. Watch him run on his wheel, drink water, and eat the food you feed him by clicking your mouse. Click the center of the wheel to make him get back on it."

Sunday, April 3, 2011

KEPEMIMPINAN YESUS (THE LEADERSHIP OF JESUS) DALAM BUKU MEMIMPIN SEPERTI YESUS (LEAD LIKE JESUS)


Dalam buku Memimpin Seperti Yesus (Lead Like Jesus), Ken Blanchard dan Phil Hodges menjelaskan bahwa di dalam dunia ini ada banyak peran kepemimpinan yang berbeda-beda. Namun, kebanyakan dan hampir semua peran kepemimpinan yang ditemukan menunjukkan banyak contoh tentang nilai-nilai yang diabaikan, kepercayaan yang dikhianati, dan manipulasi yang dilakukan oleh orang-orang yang berkuasa dan berpengaruh yang pada akhirnya dapat menimbulkan dampak negative bagi dirinya sendiri dan orang yang mempunyai relasi dengan dia.

Blanchard dan Hodges memberikan suatu pemahaman mengenai suatu model kepemimpinan yang secara popular sering dialami oleh seorang pemimpin yakni Promosi Diri (kesombongan) dan Perlindungan Diri (ketakutan). Promosi Diri (Kesombongan) dan Perlindungan Diri (Ketakutan) merupakan motivasi yang menguasai dan mendominasi urusan kepemimpinan dan merendahkan peran dari bawahannya. Namun, mereka juga memberikan suatu cara yang dianggap lebih baik, yang bisa dipercayai, yaitu model peran kepemimpinan ala Yesus.

Yesus merupakan model cara memimpin yang menghormati Allah dan memulihkan kesehatan dan efektivitas kerja serta hubungan baik dalam organisasi. Itulah cara yang Yesus inginkan agar kita ikut sebagai pemimpin: untuk melayani, bukan untuk dilayani.
Yesus seorang pemimpin yang memimpin peran hidup dan pemimpin yang memimpin organisasi. Dalam memimpin diri sendiri maupun organisasi, Yesus mengambil teladan dari Ibu-Nya sendiri, Maria yang memberikan-Nya warisan ketaatan, kerendahan hati, iman dan pelayanan yang kaya terhadap-Nya.

Yesus menjalani peran kepemimpinan yang sangat jelas yang merupakan suatu tindakan pelayanan terhadap murid-murid-Nya. Di samping informasi tentang kepemimpinan-Nya, Yesus juga memahami situasi ataupun tantangan yang dihadapi murid-murid-Nya bahkan pengikut-Nya hingga saat ini, karena ia sendiri selama bertahun-tahun memiliki pengalaman tantangan hidup dan karya yang dihadapi-Nya. Dia menggunakan waktu selama tiga puluh tahun usia hidup-Nya di bumi sebagai seorang tukang kayu di Nazareth.

Selama masa hidup-Nya di bumi, Yesus mencurahkan seluruh hidup-Nya untuk memberikan pelatihan kepada para murid-Nya dalam tiga bidang kepemimpinan pertama: kepemimpinan personal dimana perspektif adalah hasilnya (Matius 3:13-4:11), kepemimpinan dalam hubungan satu-satu dimana hasilnya adalah kepercayaan (Matius 4:18-24), kepemimpinan tim/keluarga yang akan menghasilkan suatu komunitas/warisan (Matius 10:5-10). Selama proses itu, Dia menyiapkan mereka untuk mengikuti amanat kepemimpinan-nya sesudah Dia tidak lagi bersama mereka dan para murid-Nya yang masuk ke tingkat ke-empat: kepemimpinan organisasi/komunitas yang dapat menghasilkan suatu efektivitas/rekonsiliasi.
Pada awal pelayanan-Nya, Yesus menunjukkan keinginan-Nya untuk menggembirakan Bapa dan menyerahkan control atas hidup-Nya kepada Bapa-Nya. Yesus membuat pernyataan public tentang pilihan-Nya ketika Dia menyerahkan semua kepada Bapa-Nya dan menegaskan bahwa Yohanes membaptis-Nya “untuk memenuhi kehendak Allah” (Matius 3:15). Keinginan Yesus untuk menggembirakan Allah ditunjukkan secara dramatislagi sesudah pembaptisan-Nya, ketika Dia pergi ke padang gurun dan dicobai oleh Iblis. Peristiwa ini menunjukkan kepada kita bahwa selama masa hidup-Nya, Yesus harus menunjukkan bahwa ,ilik siapakan Dia dan siapakah Dia. Apakah hidup dengan misi yang diberikan Bapa-Nya untuk menyelesaikan tujuan Bapa-Nya atau tujuan iblis ? dalam seluruh situasi ini, Yesus memilih kehendak Bapa-nya.

Blanchard dan Hodges menegaskan bahwa seseorang dapat berpaling kepada Yesus sendiri sebagai teladan kepemimpinan satu-satu dengan hati penuh pelayanan. Pada awal pelayanan-Nya, sesudah menghabiskan beberapa waktu di padang gurun, dimana tujuan hidup dan perspektif-Nya dimurnikan melalui godaan dan pencobaan, Yesus memulai proses pemanggilan para murid-Nya. Begitu mereka setuju mengikuti-Nya, Yesus menggunakan waktu tiga tahun untuk membangun budaya kepercayaan satu sama lain. Kepercayaan antara Yesus dan murid-murid-Nya tidak akan berkembang jika Yesus tidak menggunakan waktu awal-Nya di padang gurundan memutuskan siapa yang mau Dia ikuti dalam hidup-Nya dan menjadi manusia macam apa diri-Nya kelak.

Kita dapat melihat Yesus sebagai model bagi kepemimpinan Tim. Sesudah Yesus menggunakan beberapa waktu-Nya untuk mengajar dan membentuk model kepemimpinan yang Ia ingin agar mereka pergunakan, Dia mengutus para murid-Nya untuk melayani berdua-dua atau tim duaan (Markus 6). Dengan melakukan hal itu, Yesus memberdayakan mereka untuk bertindak atas nama-Nya untuk mendukung satu sama lain dalam menyelesaikan pekerjaan yang sudah dilatihkan kepada mereka agar dilaksanakan.

Bagi Yesus kepercayaan merupakan factor kunci bagi keberhasilan pelaksanaan dalam kepemimpinan tim. Tanpa kepercayaan yang dibangun dan hubungan yang terbuka, pemberdayaan tidak akan pernah terjadi. Setiap orang dalam satu kelompok tidak akan memberdayakan satu sama lain untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang ditugaskan jika mereka tidak saling percaya. Kegagalan untuk memberdayakan adalah salah satu sebab utama mengapa suatu tim tidak berhasil.

Yesus memilih untuk mengambil pendekatan sebagai pemimpin pelayan dan mulai dengan mempengaruhi kehidupan sekelompok kecil orang. Kepada merekalah Dia memberikan kepercayaan dan kemampuan untuk mempengaruhi dunia.


Dengan menilai hubungan dan hasilnya, Yesus menciptakan lingkungan untuk mengembangkan organisasi yang efektif.Dalam hidup-Nya sendiri, Dia melaksanakan tujuan yang Bapa-Nya tetapkan bagi-Nya. Yesus mengetahui betul tujuan itu dan member tahu secara jelas kepada para pengikut-Nya dan organisasi mereka ketika Dia memberi perintah utama dan Perutusan Penting. Tetapi Yesus, dalam benttuk inkarnasi-Nya, tidak pernah menjalankan kepemimpinan itu dalam suatu organisasi. Dia mempersiapkan para murid-Nya dengan memberikan latihan tentang kepemimpinan pertama kemudian mengutus Roh kudus untuk membimbing mereka dalam menjalankan kepemimpinan organisasi, suatu proses yang berkembang dalam Kisah Para Rasul.

Yesus menggunakan waktu yang penting untuk berinteraksi secara positif dengan orang yang tidak sependapat dengan-Nya . Dia tidak mengisoslasi diri-Nya dari mereka yang tidak sependapat dengan-Nya. Dia merangkul orang yang berbeda pendapat. Dia tidak mengubah ajaran atau pesan-Nya untuk mendapat dukungan, tetapi Dia terus mencintai mereka yang tidak menerima pesan-Nya.

Selama masa hidup-Nya di bumi, Yesus membangun satu model cinta yang berkorban untuk memastikan bahwa para pengikut-Nya dipersiapkan untuk melanjutkan gerakan itu. Dia menghidupkan warisan-Nya dalam hubungan yang akrab dengan orang-orang yang ia berdayakan dengan kata-kata dan teladan-Nya. Yesus mengajukan model hati pemimpin sebagai pelayan sejati dengan mencurahkan banyak waktu pelayanan-Nya untuk melatih dan mempersiapkan para murid-Nya dengan suatu model kepemimpinan. Mendekati akhir dari masa pelayanan-Nya di bumi, Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Aku tidak memanggil kamu hamba, karena seorang hamba tidak tahu apa yang dibuat oleh tuannya. Sebaliknya, Aku memanggil kamu sahabat karena segala sesuatu yang Aku terima dari Bapa, Aku telah memberitahukan-Nya kepadamu” (Yohanes 15:15). Dia juga berkata kepada para murid-Nya – dan juga kepada kita; “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa” (Yohanes 14:12).
Yesus juga menegaskan pentingnya pengampunan dalam kepemimpinan-Nya ketika Dia berseru dari salib, “Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34). Hal ini merupakan salah satu ujian yang paling nyata tentang bagaimana Yesus memiliki sikap hati dalam menangani masalah dari orang-orang yang disekitar-Nya yang tidak melakukan atau menerima pesan-Nya.

Yesus tidak semata-mata melakukan sesuatu yang orang-orang atau para muridnya saat itu inginkan dari-Nya. Yesus secara keseluruhan berfokus pada menggembirakan Bapa-Nya sebagai Pendengar satu-satunya. Itu berarti mewartakan Injil dan membawa keselamatan kepada umat manusia. Dia mengutus para murid-Nya untuk membantu orang memahami kabar baik dan hidup seturut nilai-nilai Kerajaan Allah, bukan melakukan apa yang mereka inginkan. Yesus menjelaskan bahwa apa yang Dia minta oleh para pengikut-Nya, dalam nama-Nya, tidak bermaksud untuk menyenangkan setiap orang. Dia berkata kepada mereka sejak awal bahwa mereka harus menghadapi semua perlawanan dan penganiayaan karena mengatakan apa yang orang-orang itu tidak ingin dengar.

Yesus menegaskan visi-Nya kepada para murid-Nya ketika Dia menugaskan mereka, “Karena itu pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku, baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:19-20). Itulah gambaran-Nya tentang masa depan.

Yesus menunjukkan dasar kepemimpinan sebagai tindakan pelayanan, Dia tidak mengutus para murid-Nya untuk melayani tanpa pengarahan yang jelas. Dia tidak menuntut bahwa mereka harus pergi keluar dan membantu orang-orang untuk melakukan sesuatu yang mereka inginkan. Visi-Nya jelas. Dia mendapatkannya dari puncak Hierarki - Bapa-Nya. Sebagai “penjala manusia”, para murid harus pergi dan menjadikan semua bangsa murid-Nya, yang berfokus pertama-tama pada mengasihi Allah dan kemudian mengasihi sesama (Matius 4;19; 28:19; 22:37-40). Dan kemudian berurusan dengan pemahaman visi ini, Yesus ingin agar para murid-Nya menjadi pemimpin pelayan yang menolong orang lain untuk memahami dan percaya pada kabar gembira.

Yesus mengambil tanggung jawab untuk menindak lanjuti proklamasi diri-Nya dengan memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada para murid-Nya tentang apa yang mereka perlu persiapkan untuk menjalankan misi mereka. “Sekarang mereka tahu bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal daripada-Mu. Sebab segala Firman yang Engkau sampaikan kepada-ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar bahwa Aku datang daripada-Mu dan mereka percaya bahwa Engkaulah yang mengutus Aku” (Yohanes 17:7-8). Yesus menunjukkan tanggungjawab yang tinggi mengenai perlindungan, berlangsung terus atas para murid-Nya ketika ia mengajarkan dan mempersiapkan mereka untuk menjalankan misi-Nya. Dia berkata kepada Bapa-Nya, “Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku. Aku menjaga mereka dan tidak seorangpun dari mereka yang binasa selain Dia yang telah ditentukan untuk binasa supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci” (Yohanes 17:12).

Blanchard dan Hodges memahami bahwa memimpin seperti Yesus lebih daripada sebuah teori. Memimpin seperti Yesus lebih menekankan perubahan dalam cara orang memimpin orang lain. Itu berarti membuat suatu tekad atau niat untuk mengubah perilaku seseorang agar lebih menyerupai Yesus. Itu berarti mulai dengan pertanyaan kepada diri sendiri, “Apa yang mau Yesus lakukan?” sebelum bertindak sebagai pemimpin.

Yesus bersikap tanggap terhadap sejumlah situasi yang dihadapi-Nya dan murid-murid-Nya ketika mereka berguru kepada-Nya. Namun, Yesus menghendaki agar para murid-Nya sungguh-sungguh mampu mendapatkan inspirasi dan kesiapan secara penuh untuk menjalankan tugas menjadi “penjala manusia”. Hal ini menjadi jelas ketika kita membaca kisah tentang Petrus yang mewartakan kabar gembira dalam Kisah Para Rasul 2:36-41 dimana dalam pelayanan pewartaannya Petrus membiarkan Roh Kudus turut ambil andil dalamnya.

Selama Yesus menjalani masa kepemimpinan-Nya di dunia, Diapun mengalami tekanan dan cobaan untuk menyimpang dari jalan atau menanggapai kelemahan teman-teman atau musuh-Nya. Yesus tetap bertahan pada perjalanan misi-Nya dengan menerapkan lima kebiasaan utama yang mengatasi kekuatan negative dalam hidup-Nya, yakni keheningan, doa, belajar dan menerapkan Kitab Suci, meneriman dan menanggapi cinta Allah yang tanpa syarat dan keterlibatan dalam hubungan yang saling mendukung. Menerapkan kebiasaan- kebiasaan ini amat penting bagi mereka yang hendak mengikuti Yesus sebagai model kepemimpinan mereka. Tanpa kebiasaan hidup itu, hidup tetap menjadi pengulangan yang membosankan.
Kebiasaan Yesus mencakup penggunaan waktu untuk menjal;ani keheningan dan doa, bersandar kepada sabda Allah, percaya akan hubungan cinta-Nya tanpa syarat dengan Bapa-Nya dan menemukan kegembiraan dalam persahabatan-Nya dengan sekelompok murid-Nya. Kebiasaan-kebiasaan ini mengalir tanpa henti dari watak dasarnya dan mewarnai perjalanan hidup dan kepemimpinan-Nya. Namun kebanyakan orang harus bekerja keras untuk mendapatkan disiplin hidup seperti ini sebelum menjadi kebiasaan.

Blanchard dan Hodges mengatakan bahwa memberikan suatu pembahasan yang lengkap tentang semua aspek kehidupan yang disebut pengikut Yesus bukanlah focus dari buku ini. Tetapi penting bagi mereka untuk mendorong setiap orang untuk memulai dari memperbarui perjalanannya untuk mengembangkan lima disiplin hidup Kristiani ini sebagai unsur penting agar bisa memimpin seperti Yesus. Untuk melakukan hal itu, mereka hanya menyoroti apa yang Yesus katakan. Jika setiap orang menghadapi situasi yang sama dan mungkin terdorong untuk bertanya, “Apa yang Yesus lakukan ?”. maka setiap orang akan tahu dimana ditemukan jawaban-Nya – dalam kebiasaan-Nya.



Saya memilih buku Memimpin Seperti Yesus (Lead Like Jesus) karena dalam buku ini, Blanchard dan Hodges berbicara tentang empat bidang penting dalam diri manusia dan bagaimana mereka membantu membawa setiap orang menjadi pemimpin yang luar biasa. Keempat bidang itu mencakup:

• Hati, mengenai hal apa yang menjadi motivasi setiap orang sebagai seorang pemimpin. Apakah sebagai kepala rumah tangga, gereja, atau perusahaan besar ?
• Kepala, mengenai apa yang menjadi keyakinan dan pandangan setiap orang tentang kepemimpinan ?
• Tangan, mengenai apakah masing-masing orang telah menetapkan suatu tujuan yang jelas dan mengukur cara kerjanya, dan secara konsisten membimbing orang-orang yang dipimpinnya ?
• Kebiasaan, mengenai bagaimana setiap orang memberi kesegaran dan memperbarui diri sebagai pemimpin ?
Dalam Memimpin Seperti Yesus, setiap orang akan mendapatkan bukan hanya manfaat dari kepakaran Blanchard dan Hodges, tetapi juga alat ukur yang membantu masing-masing orang untuk menganalisa gaya kepemimpinannya.
Buku ini merupakan rancangan yang efektif untuk kepemimpinan pribadi, kepemimpinan atas satu orang, keluarga atau komunitas mulai dari dalam diri hingga dapat mengubah kehidupan orang yang menjalin hubungan dengan diri kita.
http://www.leadlikejesus.com/

Kepemimpinan Soeharto (The Leadership of Soeharto)

PRESIDENT SOEHARTO
o  Latar belakang / asal-usulnya.
              Haji Moehammad Soeharto,lahir di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta, 8 Juni 1921 , Ibu Sukirah dan ayahnya, Kertoredjo alias Wagiyo alias Panjang alias Kertosudiro. Dia adalah anak ketiga dari Kertosudiro dengan Sukirah. Ketika semakin besar, Soeharto tinggal bersama kakeknya, Mbah Atmosudiro, ayah dari ibunya.
              Soeharto sekolah  ketika berusia delapan tahun, tetapi sering berpindah. Semula disekolahkan di Sekolah Dasar (SD) di Desa Puluhan, Godean. Lalu, pindah ke SD Pedes (Yogyakarta) kemudian ke Wuryantoro, Wonogiri, Jawa Tengah. Soeharto dititipkan di rumah bibinya yang menikah dengan seorang mantri tani bernama Prawirowihardjo. Soeharto kemudian disekolahkan dan  menekuni semua pelajaran, terutama berhitung. Dia juga mendapat pendidikan agama yang cukup kuat dari keluarga bibinya. Di bawah bimbingan pamannya yang mantri tani, Soeharto menjadi paham dan menekuni pertanian. Setamat Sekolah Rendah (SR) empat tahun, Soeharto disekolahkan oleh orang tuanya ke sekolah lanjutan rendah di Wonogiri. Soeharto kembali ke kampung asalnya, Kemusuk untuk melanjutkan sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah di Yogyakarta.
              Sebelum menjadi presiden, Soeharto adalah pemimpin militer pada masa pendudukan Jepang dan Belanda, dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal.Soeharto kemudian mengambil alih kekuasaan dari Soekarno, dan resmi menjadi presiden pada tahun 1968. Ia dipilih kembali oleh MPR pada tahun 1973, 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998. Pada tahun 1998, masa jabatannya berakhir setelah mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei tahun tersebut, menyusul terjadinya Kerusuhan Mei 1998 dan pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa. Ia merupakan orang Indonesia terlama dalam jabatannya sebagai presiden. Soeharto digantikan oleh B.J. Habibie.
 o  Gaya kepemimpinan.
       Gaya kepemimpinan Soeharto dapat digolongkan kepada kelompok otokratis, karena pada masa pemerintahannya dikatakan  lebih cenderung meningkatkan dana militer hal ini dapat dilihat dari pendirian  dua badan  intelijen - Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) dan Badan Koordinasi Intelijen Nasional (Bakin) serta Mengangkat 100 anggota DPR dari Angkatan Bersenjata dan  memberikan 9 kursi wakil Provinsi Irian Barat untuk wakil dari Golkar. Hal ini dilakukan untuk menyingkirkan semua unsur-unsur komunis dari Negara Indonesia dan membawa tindakan penghukuman mati anggota Partai Komunis di Indonesia yang menyebabkan pembunuhan sistematis sekitar 500 ribu "tersangka komunis", kebanyakan warga sipil, dan kekerasan terhadap minoritas Tionghoa Indonesia.
               Orde Baru dari Soeharto dapat digambarkan sebagai rezim militer yang birokratik, dengan administrasi militer yang paralel dengan administrasi sipil sampai ke tingkat pedesaan melalui tekanan brutal atas para penentang. Dengan menggunakan jaringan luas militer dan bisnis yang dikontrol oleh negara, keluarga Soeharto dan para kroninya mengambil sebagian besar bagian dari pertumbuhan itu bagi diri mereka sendiri, mencuri sekitar 15-30 milyar Dollar Amerika Serikat dan yang menurut Perserikatan Bangsa Bangsa serta kelompok anti korupsi Transparency International menjadikan Soeharto sebagai salah satu orang terkaya di dunia dan mungkin sebagai koruptor terbesar dalam sejarah.
               Di bulan Desember 1975 Soeharto memberikan otorisasi untuk menginvasi bekas koloni Portugis, Timor Timur. Hampir satu pertiga populasi Timor Timur menjadi korban jiwa invasi dan pendudukan Indonesia itu. Akan tetapi sekalipun telah didukung secara militer dan politis oleh Amerika Serikat, Indonesia sepenuhnya berhasil mengukuhkan kekuasaannya atas Timor Timur, dan pada akhirnya wilayah ini berhasil memperoleh kebebasannya kembali dalam  referendum yang disponsori oleh Perserikatan Bangsa Bangsa  pada bulan Agustus 1999, yang kemudian diikuti oleh tindakan bumi hangus oleh militer Indonesia mengakibatkan hampir semua penduduk kehilangan tempat tinggal.
               Pada 1978 untuk mengeliminir gerakan mahasiswa yang banyak bergerak sebagai oposisi kepemimpinan Soeharto, maka segera diberlakukannya NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan). Kebijakan  ini ditentang keras oleh banyak organisasi mahasiswa.Mulut pers pun dibungkam dengan lahirnya UU Pokok Pers No. 12 tahun 1982. UU ini mengisyaratkan  adanya restriksi atau peringatan mengenai isi pemberitaan ataupun siaran. Organisasi massa yang terbentuk harus memperoleh izin pemerintah dengan hanya satu organisasi profesi buatan pemerintah yang diperbolehkan berdiri. Sehingga organisasi massa tak lebih dari wayang-wayang Orde Baru. Kemudian pada tahun 1979-1980 muncul sekelompok purnawirawan perwira tinggi angkatan bersenjata dan tokoh-tokoh sipil yang dikenal kritis, yang tergabung dalam Petisi 50, mengeluarkan serial selebaran yang mengeluhkan sikap politik pemerintah Orde Baru yang menjadikan Angkatan Darat sebagai pendukung kemenangan Golkar, serta menuntut adanya reformasi politik. Sebagai balasannya, pemerintah mencekal mereka. Kelompok ini pun gagal serta tak pernah mampu tampil lagi sebagai kelompok oposisi yang efektif terhadap pemerintahan Orde Baru.
o  Prestasi / jasa-jasanya.
Bidang politik
Sebagai presiden Indonesia selama lebih dari 30 tahun, Soeharto telah banyak mempengaruhi sejarah Indonesia. Dengan pengambil alihan kekuasaan dari Soekarno, Soeharto dengan dukungan dari Amerika Serikat memberantas paham komunisme dan melarang pembentukan partai komunis. Dijadikannya Timor Timur sebagai provinsi ke-27 (saat itu) juga dilakukannya karena kekhawatirannya bahwa partai Fretilin (Frente Revolucinaria De Timor Leste Independente /partai yang berhaluan sosialis-komunis) akan berkuasa di sana bila dibiarkan merdeka.
Bidang kesehatan
Untuk mengendalikan jumlah penduduk Indonesia, Soeharto memulai kampanye Keluarga Berencana yang menganjurkan setiap pasangan untuk memiliki secukupnya 2 anak. Hal ini dilakukan untuk menghindari ledakan penduduk yang nantinya dapat mengakibatkan berbagai masalah, mulai dari kelaparan, penyakit sampai kerusakan lingkungan hidup.
Bidang pendidikan
Dalam bidang pendidikan Soeharto mempelopori proyek Wajib Belajar yang bertujuan meningkatkan rata-rata taraf tamatan sekolah anak Indonesia. Pada awalnya, proyek ini membebaskan murid pendidikan dasar dari uang sekolah (Sumbangan Pembiayaan Pendidikan) sehingga anak-anak dari keluarga miskin juga dapat bersekolah. Hal ini kemudian dikembangkan menjadi Wajib Belajar 9 tahun.
Bidang perekonomian
Pada masa pemerintahan Soeharto yang ketujuh kalinya, pada 10 Maret 1998, Kali ini, Prof Ing BJ Habibie sebagai wakil presiden. Indonesia mengalami krisis moneter yang menyerang sampai ke sector krisis ekonomi. Pada 17 Maret 1998, ia menyumbangkan seluruh gaji dan tunjangannya sebagai presiden dan meminta kerelaan para pejabat tinggi lainnya untuk menyerahkan gaji pokoknya selama satu tahun dalam rangka krisis moneter.
o  Pengaruh yang ditanamkan.
                   Pada tahun 1985, Presiden Soeharto sukses mengantarkan Indonesia dari pengimpor besar terbesar di dunia menjadi swasembada didapuk maju ke podium untuk memberikan pidatonya. Dia menyerahkan bantuan satu juta ton padi kering (gabah) dari para petani untuk diberikan kepada rakyat Afrika yang mengalami kelaparan.
               Pada tahun 1988, Sekali lagi, mata dunia tertuju lagi kepada seorang Soeharto. Karena sukses dalam pelaksanaan program kependudukan dan keluarga berencana, Presiden Soeharto mendapat  piagam penghargaan perorangan di Markas Besar Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) di New York pada 8 Juni 1989.
               Meskipun demikian, Soeharto juga menggunakan jaringan luas militer dan bisnis yang dikontrol oleh negara, keluarga Soeharto dan para kroninya mengambil sebagian besar bagian dari pertumbuhan itu bagi diri mereka sendiri, mencuri sekitar 15-30 milyar Dollar Amerika Serikat dan yang menurut Perserikatan Bangsa Bangsa serta kelompok anti korupsi Transparency International menjadikan Soeharto sebagai salah satu orang terkaya di dunia dan mungkin sebagai koruptor terbesar dalam sejarah.
o  Prestasi lain.
                 Pada tahun 1941, Soeharto tamat sekolah militer sebagai lulusan terbaik dan menerima pangkat kopral. Ia terpilih menjadi prajurit teladan di Sekolah Bintara, Gombong serta resmi menjadi anggota TNI pada 5 Oktober 1945.
Pada tahun 1942, Dia bergabung dengan pasukan kolonial Belanda, KNIL. Setelah berpangkat sersan  tentara KNIL, dia kemudian menjadi komandan peleton, komandan kompi di dalam militer yang disponsori Jepang yang dikenal sebagai tentara PETA, komandan resimen dengan pangkat mayor, dan komandan batalyon berpangkat letnan kolonel.
Pada 1 Oktober 1961, jabatan rangkap sebagai Panglima Korps Tentara I Caduad (Cadangan Umum AD) yang telah diembannya ketika berusia 40 tahun bertambah dengan jabatan barunya sebagai Panglima Kohanudad (Komando Pertahanan AD). Pada tahun 1961 tersebut, ia juga mendapatkan tugas sebagai Atase Militer Republik Indonesia di Beograd, Paris (Perancis), dan Bonn (Jerman). Di usia 41 tahun, pangkatnya dinaikkan menjadi mayor jenderal (1 Januari 1962) dan menjadi Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat dan merangkap sebagai Deputi Wilayah Indonesia Timur di Makassar. Sekembalinya dari Indonesia Timur, Soeharto yang telah naik pangkat menjadi mayor jenderal, ditarik ke markas besar ABRI oleh Jenderal A.H. Nasution.
Di pertengahan tahun 1962, Soeharto diangkat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) hingga 1965.Sekitar setahun kemudian, tepatnya, 2 Januari 1962, Brigadir Jenderal Soeharto diangkat sebagai Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat. Mayor Jenderal Soeharto dilantik sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat dan segera membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ormas-ormasnya. Setelah diangkat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) pada 1 Mei 1963, ia membentuk Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) untuk mengimbangi G-30-S yang berkecamuk pada 1 Oktober 1965. Dua hari kemudian, tepatnya 3 Oktober 1965, Mayjen Soeharto diangkat sebagai Panglima Kopkamtib. Jabatan ini memberikan wewenang besar untuk melakukan pembersihan terhadap orang-orang yang dituduh sebagai pelaku G-30-S/PKI. Ia menerima penganugerahan Bintang Lima atau Pangkat Jenderal Besar saat berusia 76 tahun (39 September 1997).
                 Di bidang pertanian, FAO mengganjar penghargaan khusus kepada Soeharto berbentuk medali emas pada 21 Juli 1986.
                 Di bidang kependudukan, Karena sukses dalam pelaksanaan program kependudukan dan keluarga berencana. Presiden Soeharto mendapat piagam penghargaan perorangan di Markas Besar Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) di New York pada 8 Juni 1989.
               Dia dianugerahi UN Population Award, penghargaan tertinggi PBB di bidang kependudukan. Penghargaan itu disampaikan langsung oleh Sekretaris Jenderal PBB, Javier de Cueller di Markas Besar PBB, New York bertepatan dengan ulang tahun Soeharto yang ke-68 pada 8 Juni 1989. Soeharto makin dilirik ketika berhasil menegakkan harkat bangsa Indonesia di latar ekonomi Asia. Di ASEAN, dia dianggap berjasa ikut mengembangkan organisasi regional ini sehingga diperhitungkan di dunia.
o  Alasan memilih tokoh ini.
Banyaknya kontroversi mengenai masa-masa kepemimpinan Soeharto sebagai President Republik Indonesia selama 32 tahun, menimbulkan dilema terbesar dalam sejarah kepresidenan Indonesia. Soeharto banyak memberi jasa yang sangat luar biasa bagi bangsa Indonesia. Sepanjang sejarah kepresidenan Indonesia, hanya pada masa Soehartolah Indonesia menjadi Negara yang sangat diperhitungkan bagi Negara-negara maju, baik di Asia, Amerika sampai ke Eropa. Bahkan, di Afrikapun Indonesia pernah menjadi pahlawan pangan karena bantuannya gabahnya untuk mengatasi kelaparan di Afrika. Meskipun demikian Soeharto juga dikenal sebagai Diktator Indonesia dan Koruptor terbesar dunia pada masa akhir pemerintahannya. Inilah yang mengundang rasa ingin tahu saya mengenai kepemimpinan Soeharto dan mengenal dirinya dari semua sisi.